Banyak Orang Sudah Tidak Percaya Dokter dan Guru, Ini Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kehadiran kecerdasan buatan (AI) kini mulai mengikis kepercayaan masyarakat terhadap pakar profesional, seperti dokter dan guru. Di tengah era digital yang serba cepat, masyarakat makin terbiasa melakukan riset mandiri alih-alih langsung mempercayai pendapat profesional.
Berdasarkan riset terbaru dari Use.AI, saran-saran dari tenaga profesional seperti dokter dan guru kini tidak lagi diterima begitu saja. Hasil survei mencatat, hampir dua pertiga (64%) responden kini merasa jauh lebih percaya diri untuk mendebat atau mempertanyakan informasi yang diberikan para ahli.
Fenomena ini memicu lahirnya apa yang disebut sebagai "resesi keahlian" (expertise recession). Kondisi ini menggambarkan pergeseran tren, di mana nilai sebuah keeahlian profesional mulai meredup di dunia yang kian dimudahkan oleh AI.
Pasalnya, tool AI mampu merangkum informasi, menyajikan konteks, serta memberikan jawaban kompleks menjadi lebih simpel dan mudah dimengerti dalam hitungan detik.
Gen Z dan Milenial Paling Kritis
Survei yang melibatkan 15.428 responden dewasa ini turut memetakan sejumlah profesi lain yang kian sering dipertanyakan publik, mulai dari manajer, jurnalis, hingga ekonom.
Temuan menarik juga terlihat dari celah antar-generasi. Sebanyak 70% responden kelompok usia 18 hingga 34 tahun mengaku lebih nyaman melontarkan pertanyaan bernada konfrontatif atau kritis kepada para ahli setelah mereka memvalidasinya lewat chatbot AI. Sebaliknya, angka tersebut turun drastis menjadi 49% pada kelompok usia di atas 45 tahun.
Secara keseluruhan, 53% masyarakat kini memanfaatkan AI untuk memverifikasi jawaban dari pakar sebelum memutuskan apakah mereka sepakat atau tidak. Selain itu, hampir separuh responden (46%) blak-blakan menyatakan bahwa kredensial atau gelar profesional tidak lagi memiliki prestise setinggi dulu. Kemudahan akses verifikasi data membuat reputasi para ahli kini berada di bawah mikroskop publik.
Kredensial memang masih merepresentasikan pengalaman dan jam terbang, namun hal tersebut bukan lagi jaminan bagi masyarakat untuk menerima suatu pernyataan tanpa konfirmasi tandingan-yang umumnya kini bersumber dari AI.
Ancaman Kesenjangan Kompetensi
Menanggapi laporan tersebut, Use.AI menyoroti adanya tren penurunan kepatuhan mutlak (automatic deference) terhadap tenaga profesional yang telah mengenyam pendidikan bertahun-tahun.
"AI telah mendemokratisasi rasa percaya diri jauh lebih cepat daripada mendemokratisasi pengetahuan," ujar Ihor Herasymov, Co-Founder & CEO Use.AI. "Seseorang kini bisa menggunakan AI untuk merumuskan pertanyaan yang lebih tajam, tanpa harus benar-benar memiliki kualifikasi yang kompeten untuk menilai kebenaran dari jawabannya."
Use.AI memperingatkan bahwa "kesenjangan antara rasa percaya diri dan kompetensi" ini bakal kian melebar, seiring makin masifnya ketergantungan publik terhadap AI sebagai mesin pencari informasi dan verifikasi fakta instan.
(fab/fab)