Data Center Sudah Bawa Petaka di Wilayah Dekat RI, Nasib Warga Miris
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan industri kecerdasan buatan (AI) kembali memicu alarm bahaya bagi lingkungan. Perusahaan pengembang pusat data (data center) raksasa asal Australia, NextDC, baru saja melaporkan lonjakan konsumsi air dan listrik yang kian mengkhawatirkan, seiring meroketnya permintaan kapasitas komputasi demi mengeruk laba fantastis.
Berdasarkan laporan keuangan hingga periode Juni 2026, rasio efektivitas penggunaan air (water usage effectiveness atau WUE) NextDC melonjak drastis dari 2,25 menjadi 2,40 liter per kilowatt-jam (kWh). Kondisi serupa terjadi pada rasio efektivitas penggunaan daya (power usage effectiveness atau PUE), yakni tolok ukur seberapa besar energi listrik yang dihisap data center untuk pendinginan dan operasional.
PUE NextDC terus merangkak naik dari 1,44 menjadi 1,49. Yang lebih memprihatinkan, kedua metrik pemborosan sumber daya ini tercatat terus memburuk secara berturut-turut selama tiga tahun terakhir.
Di tengah persaingan bisnisnya dengan AirTrunk dan CDC, NextDC berdalih bahwa pembengkakan ini disebabkan oleh proyek-proyek ekspansi serta masalah teknis seperti anomali meteran dan kebocoran. Namun, dalih operasional tersebut tidak serta-merta meredakan kekhawatiran publik.
Bagi para pembuat kebijakan dan masyarakat luas, angka-angka ini menjadi bukti nyata atas ancaman serius yang ditimbulkan megaproyek data center terhadap ketersediaan pasokan air bersih dan kestabilan jaringan listrik lokal. Pada akhirnya, masyarakat yang akan menanggung mudaratnya.
Tekanan ini membuat berbagai pemerintah dan kota di penjuru dunia mulai mengambil sikap tegas, mulai dari membekukan, membatasi, hingga melarang total pembangunan data center baru demi mencegah krisis energi dan kelangkaan air.
Pemerintah Canberra sendiri kini tengah menggodok regulasi nasional yang jauh lebih ketat untuk menekan dampak lingkungan tersebut, termasuk mewajibkan setiap data center agar membangun pembangkit energi terbarukan mandiri alih-alih terus-menerus mengeruk pasokan listrik dari jaringan publik.
Ironisnya, di saat beban terhadap sumber daya alam makin tak terkendali, performa bisnis NextDC justru melesat tajam. Perusahaan sukses meraup laba bersih sebesar A$82,1 juta (Rp1 triliun), berbalik dari kerugian tahun sebelumnya, dengan perolehan underlying EBITDA yang menembus A$248,8 juta dan mendongkrak harga saham mereka sebesar 3,3% pada perdagangan Jumat siang.
(fab/fab)