Pegawai Indomaret-Alfamart Bisa Punah, Penggantinya Muncul dari China

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 26/08/2026 12:30 WIB
Foto: Sebuah toko robot otonom sepenuhnya di tepi laut Hung Hom. (Dok. Galbot)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri ritel mulai mengalami transformasi akibat pengembangan teknologi canggih seperti kecerdasan buatan (AI) dan robotika. Kasir hingga karyawan toko ritel modern seperti Indomaret dan Alfamart tampaknya harus mulai bersiap menghadapi ancaman disrupsi nyata.

Pasalnya, kini telah hadir 'karyawan' toko yang tak kenal lelah, tak butuh cuti, hingga tak menuntut gaji meski harus bekerja nonstop 24 jam. Memang, gelombangnya belum sampai ke Indonesia, tetapi sudah mulai menguat di negara Asia lain.

Setelah sempat menghebohkan China, toko ritel bertenaga robotik penuh tersebut kini resmi melebarkan sayapnya ke Hong Kong. Toko bernama Ro-bodega yang berlokasi di kawasan tepi laut Hung Hom tersebut mendadak jadi pusat perhatian pelaku industri ritel global.


Toko ini beroperasi penuh tanpa satu pun tenaga kerja manusia. Seluruh aktivitas operasional-mulai dari restock barang di rak, mengambilkan pesanan konsumen, hingga melayani transaksi pembayaran-ditangani secara mandiri oleh satu robot humanoid bernama Xiao Gai, dikutip dari South China Morning Post.

Dikembangkan raksasa AI dan robotika asal Beijing, Galbot, Xiao Gai memiliki postur tinggi 1,67 meter dengan jangkauan lengan mencapai 1,8 meter. Tak hanya piawai melakukan pekerjaan fisik, robot pintar ini juga dibekali kemampuan komunikasi yang ramah dalam berbagai bahasa.

Produk yang dijajakan pun sangat familiar, mulai dari camilan, minuman dingin, hingga obat-obatan bebas-persis layaknya minimarket yang kerap kita temui di sudut-sudut jalan Indonesia.

Proyek yang disokong oleh Hong Kong Investment Corporation ini menjadi bukti sahih bahwa integrasi Artificial Intelligence (AI) dan robotika telah merangsek ke kehidupan sehari-hari. Galbot bahkan memproyeksikan daya tarik toko unik ini mampu mendongkrak trafik pengunjung di kawasan tersebut hingga 40%.

Tak berhenti di Hong Kong dan lokasi perdananya di Summer Palace Beijing, Galbot menargetkan bakal meluncurkan 100 toko kapsul berbasis robot serupa di 10 kota besar lainnya.

Sinyal Bahaya bagi Pekerja Ritel Domestik

Tren ini jelas menjadi sinyal alarm keras bagi industri ritel tanah air. Jika efisiensi teknologi ini makin teruji dan biaya adopsinya makin murah, bukan tidak mungkin konsep minimarket tanpa manusia akan segera menginvasi pasar Indonesia. Konsekuensinya gamblang, posisi ribuan karyawan toko yang selama ini diisi oleh tenaga manusia berpotensi tergantikan oleh mesin.

Langkah efisiensi berbasis robotik ini juga searah dengan tren global. Di industri penerbangan misalnya, Japan Airlines baru-baru ini mulai menguji coba robot penanganan bagasi di Bandara Haneda.

Kendati demikian, otomatisasi total bukan tanpa celah. Sederet insiden kegagalan robot AI sempat memicu sorotan publik. Awal tahun ini, sebuah video viral memperlihatkan robot pelayan restoran yang 'mengamuk' dan melempar peralatan makan ke segala arah.

Selain itu, sebuah agen AI yang ditugaskan mengelola kedai kopi di Stockholm justru menguras habis anggaran operasional hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan, akibat blunder memesan 3.000 pasang sarung tangan karet yang sama sekali tidak dibutuhkan.

Meski masih menyisakan catatan teknis, laju teknologi robotik sulit untuk dibendung. Bagi para pekerja di sektor ritel, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) akibat otomatisasi kini bukan lagi sekadar wacana futuristik, melainkan realitas yang makin nyata di depan mata.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi ABB Manfaatkan AI di Bisnis Pulp & Paper hingga Tambang