China Mendadak Batal ke Bulan, Awas Amerika Siap Salip
Jakarta, CNBC Indonesia - Tiba-tiba kabar mengejutkan datang dari program antariksa China. Misi bersejarah Chang'e-7 yang direncanakan meroket dalam hitungan hari untuk mencari dan menganalisis es air di Kutub Selatan Bulan, tiba-tiba ditunda. Badan antariksa China menyatakan pesawat tak memenuhi syarat peluncuran dan tidak bisa lepas landas dalam jendela waktu yang direncanakan tahun ini, dikutip dari laporan CNN, Minggu (23/8/2026).
Chang'e-7 dikabarkan sudah siap meluncur secepatnya pada Minggu malam atau Senin pagi waktu Beijing, menggunakan roket pendorong dari Pusat Peluncuran Wenchang, Pulau Hainan. Namun pada 23 Agustus, Kantor Teknik Antariksa Berawak China mengumumkan bahwa wahana penjelajah bulan tersebut tidak memenuhi syarat peluncuran dan tidak dapat diluncurkan dalam jendela waktu yang direncanakan tahun ini.
Pihak berwenang menyatakan keputusan itu diambil setelah penilaian menyeluruh dengan memegang prinsip kehati-hatian, keandalan, dan menjamin kesuksesan mutlak. Namun alasan pasti penundaan tidak dijelaskan secara terperinci. Belum diketahui pula kapan peluncuran ulang dapat dilakukan.
Chang'e-7 dirancang untuk misi yang belum pernah dilakukan sebelumnya yaitu menganalisis secara langsung kandungan es air di Kutub Selatan Bulan, tepatnya di kawasan yang diyakini menyimpan cadangan air beku melimpah di dalam kawah-kawah yang tak pernah terkena sinar matahari. Jika berhasil, ini akan menjadi analisis langsung pertama kali terhadap air di Bulan dalam sejarah.
Selama ini, Amerika Serikat hanya mampu mendeteksi keberadaan es air dari jauh menggunakan satelit yang mengorbit. AS belum pernah berhasil mengirim wahana pengebor maupun peneliti langsung ke lokasi tersebut. Salah satu upaya sebelumnya melalui perusahaan swasta Intuitive Machines pada tahun 2025 berakhir gagal mendarat di medan yang sulit dijangkau.
Rencana peluncuran Chang'e-7 pada Agustus 2026, seharusnya menempatkan China beberapa langkah di depan AS. NASA masih menyiapkan misi serupa yang baru dijadwalkan meluncur paling cepat akhir tahun 2026 atau bahkan tahun 2027.
Astrobotic Technologies berencana mengirimkan wahana pendarat bernama Griffin, dan Blue Origin milik Jeff Bezos juga bersiap mengirimkan penjelajah yang mungkin membawa robot pengebor milik NASA bernama VIPER.
Seandainya Chang'e-7 meluncur sesuai jadwal dan berhasil, China akan menjadi pihak pertama yang memastikan adanya air di Bulan secara langsung, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun lebih dulu dibanding Amerika Serikat.
Posisi ini akan memberikan keuntungan strategis luar biasa, karena air beku itu dapat diubah menjadi udara, air minum, dan bahan bakar roket. Sumber daya tersebut adalah fondasi rencana membangun pangkalan di Bulan.
Namun, penundaan Chang'e-7 ini mengubah peta persaingan. Jendela peluncuran ke Kutub Selatan Bulan tidak terbuka setiap saat, sehingga kemungkinan besar China harus menunggu hingga tahun depan untuk mencoba kembali. Waktu tunggu itu justru memberi napas yang sangat dibutuhkan bagi Amerika Serikat, yang kini berpeluang mengejar ketertinggalan dan bahkan mungkin tiba lebih dulu di lokasi tersebut.
Alasan mencari air es di Bulan
Mengapa pencarian es air ini begitu diperebutkan? Karena air beku di Bulan dapat diubah menjadi udara, air minum, dan bahan bakar roket. Siapa yang pertama kali mampu memanfaatkannya, pada dasarnya bisa membangun pangkalan masa depan di Bulan yang selanjutnya akan dijadikan titik tolak menuju planet lain seperti Mars.
Karena itulah, China dan Amerika Serikat kini sedang berpacu untuk mencapai Kutub Selatan Bulan. Penundaan Chang'e-7 ini berpotensi mengubah urutan siapa yang pertama kali berhasil memastikan dan memanfaatkan sumber daya air tersebut.
Dengan penundaan tersebut, belum diketahui kapan jendela peluncuran berikutnya akan terbuka. Kondisi cahaya matahari di kutub bulan hanya memungkinkan pendaratan dalam periode waktu yang sangat terbatas setiap tahun.
Jika China kehilangan kesempatan tahun ini, maka peluang kembali terbuka sekitar setahun lagi. Sementara itu, Amerika Serikat terus mempercepat persiapan misi-misinya, sehingga kemungkinan besar kawasan Kutub Selatan Bulan akan menjadi lokasi persaingan ketat pada tahun 2027.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]