Facebook Bela Konten Kebencian Ajak Perang Lawan Islam, Tolak Hapus

Redaksi,  CNBC Indonesia
20 August 2026 19:40
FILE - In this Wednesday, March 21, 2018 file photo, the Facebook logo is seen on a smartphone in Ilsan, South Korea. Facebook has started testing a tool that lets users move their images more easily to other online services, as it faces pressure fro
Foto: Facebook (AP Photo/Ahn Young-joon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Meta, perusahaan induk Facebook dan Instagram, dilaporkan menolak menghapus unggahan yang berisi seruan kekerasan dan kebencian terbuka terhadap kaum Muslim, meskipun konten tersebut telah dilaporkan melanggar aturan platform. Konten yang sebagian besar berupa gambar buatan kecerdasan buatan (AI) itu justru dibiarkan menyebar luas, dikutip dari laman Futurism, Selasa (18/8/2026).

Pemicu gelombang kebencian itu bermula dari unggahan influencer sayap kanan ekstrem Amerika Serikat, Jake Lang yang membagikan poster buatan AI berisi seruan menggelar "Pawai Tentara Salib ke Dearborn" pada 18 Agustus 2026. Dearborn, Michigan merupakan kawasan dengan komunitas Arab-Amerika terbesar di Amerika Serikat. Poster itu memuat ilustrasi prajurit bersenjata pedang menyerbu kerumunan warga Muslim, dengan pesan untuk "menghentikan Islamifikasi Amerika".

Konten itu dilaporkan ke Facebook karena jelas-jelas menyerukan kekerasan. Namun hanya dalam waktu satu menit, balasan otomatis dari platform menyatakan bahwa unggahan tersebut tidak dihapus. Belum ada penjelasan lebih lanjut mengapa seruan terbuka kekerasan itu dibiarkan.

Tak hanya itu, berbagai unggahan lain yang bernada kebencian ekstrem juga masih bisa diakses hingga kini. Beberapa di antaranya menyebut Muslim sebagai "kecoa", menyatakan "saatnya berburu", dan menyerukan pengusiran serta pemusnahan seluruh warga Muslim dari AS. Komentar yang berisi ancaman pembunuhan pun dilaporkan masih dibiarkan tayang setelah dilaporkan.

Ketika dimintai tanggapan, Meta hanya merujuk pada kebijakannya yang menyatakan melindungi pengungsi dan imigran dari serangan terberat, sekaligus menyatakan tetap mengizinkan "kritik terhadap kebijakan imigrasi". Perusahaan tidak memberikan penjelasan terperinci mengapa seruan kekerasan terbuka dan bahasa yang merendahkan manusia tidak masuk dalam kategori yang harus dihapus.

Laporan tersebut menyoroti bahwa gambar-gambar kebencian yang dibuat dengan AI itu menyebar jauh lebih cepat dan luas karena dirancang memancing kemarahan, yang justru disukai algoritma Facebook. Makin banyak pengguna yang berinteraksi, makin luas pula jangkauannya sehingga kebencian itu ikut dipropagandakan oleh sistem Meta sendiri.

Pola ini mengingatkan pada peran Facebook dalam menyebarkan ujaran kebencian yang memicu kekerasan terhadap minoritas Rohingya di Myanmar pada 2017, yang kemudian dinilai PBB telah berperan menentukan dalam tragedi tersebut. Kini AI menambah pelik masalah karena gambar-gambar yang dibuat mesin bisa diproduksi massal dan menyebar dalam hitungan menit ke jutaan orang.

Berbagai pihak menilai bahwa Meta seakan-akan membiarkan kebencian menyebar selama masih mendatangkan keterlibatan pengguna dan pendapatan iklan. Syarat dan ketentuan Meta malah melarang seruan kekerasan serta bahasa yang merendahkan kelompok tertentu berdasarkan agama.

Hingga kini, Meta belum memberikan penjelasan terperinci mengapa unggahan yang jelas-jelas melanggar kebijakan tetap dibiarkan tayang. Keadaan ini memunculkan pertanyaan serius soal sistem moderasi konten di semua platform milik Meta yaitu Facebook, Instagram, WhatsApp, dan Threads.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Instagram Cuan dari Konten Biadab, Kelakuan Bos Meta Diungkap


Most Popular
Features