Amerika Darurat, Terungkap Serangan Diam-Diam dari Dalam

Redaksi,  CNBC Indonesia
20 August 2026 14:10
Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan perintah eksekutif terkait fleksibilitas vaksin, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, D.C., AS, pada 10 Agustus 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)
Foto: Presiden AS Donald Trump berbicara dalam acara penandatanganan perintah eksekutif terkait fleksibilitas vaksin, di Ruang Oval Gedung Putih di Washington, D.C., AS, pada 10 Agustus 2026. (REUTERS/Kylie Cooper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperingatkan adanya ancaman serangan siber terhadap perangkat yang digunakan untuk mengoperasikan dan memantau fasilitas air serta infrastruktur kritis lainnya. Sejumlah peretas yang belum teridentifikasi disebut tengah berupaya membobol perangkat buatan Siemens.

Peringatan tersebut tertuang dalam advisori keamanan siber yang diterbitkan pada Rabu (19/8). Badan Keamanan Nasional AS (NSA), FBI, Departemen Energi, Badan Perlindungan Lingkungan (EPA), serta Cybersecurity and Infrastructure Security Agency (CISA) menerbitkan peringatan bersama tersebut.

Dalam advisori itu, pemerintah AS menyebut terdapat "active threat" atau ancaman aktif terhadap seluruh programmable logic controller (PLC) Siemens seri S7 yang digunakan di berbagai sektor infrastruktur penting.

Perangkat tersebut berperan mengendalikan dan memantau proses industri. Penggunaannya mencakup sektor manufaktur, energi, air dan pengolahan air limbah, kimia, pangan, hingga pertanian.

Dampaknya Tak Main-Main

Pemerintah AS memperingatkan bahwa jika peretas berhasil mengambil alih perangkat tersebut, dampaknya bisa sangat serius. Serangan dapat mengganggu proses penting, memicu insiden keselamatan, menyebabkan penghentian operasional, hingga merusak peralatan.

Selain itu, peretas berpotensi mencuri data sensitif dan memicu pelanggaran kepatuhan. Gangguan juga dapat menyebar ke sistem lain yang saling terhubung sehingga menimbulkan efek berantai terhadap infrastruktur kritis.

Yang membuat ancaman ini semakin serius, para peretas disebut mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mempercepat proses serangan, demikian dikutip dari Reuters, Kamis (20/8/2026).

Menurut badan-badan pemerintah AS, AI memungkinkan pelaku mengurangi secara drastis keahlian teknis dan waktu yang sebelumnya dibutuhkan untuk mengembangkan eksploit yang dapat membobol sistem.

CISA sebelumnya telah memperingatkan pada 30 Juli mengenai peningkatan signifikan serangan terhadap PLC. Peringatan tersebut menyusul advisori pada 22 Juli yang mengungkap bahwa peretas yang berafiliasi dengan Iran mengeksploitasi perangkat PLC buatan Siemens, Rockwell Automation, dan Schneider Electric.

Ancaman tersebut muncul ketika sejumlah sistem air lokal di beberapa negara bagian AS menjadi sasaran serangan siber dalam beberapa pekan terakhir. Pakar keamanan siber menduga serangkaian serangan tersebut memiliki keterkaitan dengan Iran.

Namun, pejabat federal AS belum secara resmi menghubungkan serangan terhadap sistem air lokal dengan Iran.

Presiden Donald Trump bahkan mengatakan pada 31 Juli bahwa dirinya tidak meyakini Iran berada di balik serangan tersebut. Trump justru menyalahkan Minnesota, negara bagian pertama yang melaporkan gelombang sedikitnya 30 insiden siber terkait fasilitas air pada 26 dan 27 Juli.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Alarm Bahaya! Bank-Bank Siaga Hadapi Petaka Besar


Most Popular
Features