Petaka Buat Driver Online Meluas, Tetangga RI Sudah Terdampak

Redaksi, CNBC Indonesia
Selasa, 18/08/2026 18:00 WIB
Foto: Weride. (Dok. weride)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri transportasi dan otomotif Asia Tenggara bersiap menghadapi babak baru persaingan teknologi. Perusahaan kendaraan otonom asal China, WeRide, mengumumkan rencana ekspansi agresif ke sejumlah negara Asia, termasuk kawasan Asia Tenggara.

Langkah strategis ini berpotensi menjadi pintu masuk penetrasi komersial teknologi taksi tanpa pengemudi (robotaxi) di kawasan regional, sekaligus memicu kekhawatiran atas potensi dampaknya terhadap keberlangsungan profesi driver taksi online.

Ekspansi internasional ini dilakoni di tengah sengitnya kompetisi antar-pemain robotaxi China dalam memperebutkan pasar global. Langkah diversifikasi geografis ini dibidik guna mengamankan sumber pertumbuhan baru seiring dengan kian dekatnya tahap komersialisasi penuh kendaraan tanpa sopir secara global.


Incar Singapura hingga Australia

CEO WeRide, Tony Han, mengungkapkan bahwa perusahaan tengah gencar menjajaki beberapa pasar baru berpotensi tinggi, seperti Australia, Korea Selatan, Jepang, hingga Asia Tenggara.

"Di Australia, kami sedang berdiskusi dengan pihak regulator mengenai berbagai kemungkinannya," ujar Han, dikutip dari Reuters, Selasa (18/8/2026).

Han menambahkan bahwa Asia Tenggara, Korea Selatan, dan Jepang merupakan target utama ekspansi berikutnya, di samping diskusi intensif yang tengah berjalan dengan regulator di beberapa negara Eropa.

Perusahaan yang bermarkas di Guangzhou ini baru saja merambah pasar Denmark pada awal Agustus 2026, memperluas tapak operasinya di benua biru menjadi enam negara. Secara global, armada otonom WeRide kini telah mengaspal di lebih dari 60 kota di 13 negara.

Menariknya, layanan robotaxi kemudi kanan (setir kanan) siap mengudara secara komersial di Singapura dan Hong Kong. Kedua pasar ini dinilai memiliki karakteristik lalu lintas yang serupa dengan sebagian besar negara di Asia Pasifik.

Han menegaskan komitmen perusahaan untuk tidak sekadar hadir, tetapi juga membangun ekosistem lokal di setiap kawasan operasional baru.

"Kami ingin merekrut tenaga kerja lokal, bekerja sama erat dengan pemerintah serta otoritas setempat, dan memaksimalkan kemitraan dengan pelaku industri lokal," tegasnya.

Pasar Internasional Naik 164%

Ekspansi ke luar negeri terbukti menjadi mesin pertumbuhan paling moncer bagi WeRide. Berdasarkan laporan keuangan terbaru perusahaan, pendapatan dari pasar internasional pada kuartal II melesat hingga 164% secara tahunan (year-on-year/YoY). Laju ini jauh melampaui pertumbuhan total pendapatan kuartalan yang mencatatkan kenaikan 82% YoY.

Kinerja keuangan WeRide juga menunjukkan perbaikan, di mana kerugian EBITDA pada kuartal II berhasil ditekan sebesar 8,1% YoY. Manajemen mematok target untuk mencapai arus kas positif secara kuartalan pada 2028, dengan titik impas (break-even point) tahunan diproyeksikan terealisasi pada 2029.

Terkait posisi modal, Han menyampaikan bahwa perusahaan belum memiliki urgensi mendesak untuk menghimpun dana baru dalam waktu dekat, meski tetap terbuka terhadap opsi suntikan modal jika syaratnya menguntungkan.

Ambisi 1 Juta Armada di 2035

Hingga akhir Juli 2026, total armada robotaxi WeRide telah menembus angka 1.800 unit. Jumlah tersebut merupakan bagian dari 3.400 unit kendaraan otonom Level 4 yang dioperasikan perusahaan, termasuk robobus (bus otonom) dan robosweeper (kendaraan pembersih jalan otonom).

Manajemen optimistis mampu menuntaskan target penyediaan 5.000 unit kendaraan otonom Level 4 pada akhir tahun ini, di mana 2.600 unit di antaranya berupa robotaxi.

Guna menekan biaya produksi hardware, WeRide menggandeng GAC dalam merancang model robotaxi baru, melengkapi varian terdahulu yang dikembangkan bersama Geely Farizon. Dalam jangka panjang, WeRide mematok target ambisius untuk mengoperasikan puluhan ribu robotaxi pada 2030, sebelum akhirnya melesat hingga 1 juta armada pada 2035.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi Fintech Lending Atasi Gap Kredit UMKM Sebesar Rp2.400 T