Warga China Jual Wajah Rp 12 Juta, Demi Masuk Dracin
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan penggunaan kecerdasan buatan (AI) di China melahirkan bisnis baru yang unik dan tak biasa. Warga kini bisa mendapatkan uang dengan menyewakan hak penggunaan wajah mereka untuk berbagai konten berbasis AI, seperti drama China (dracin).
Sejumlah platform digital menawarkan bayaran mulai dari US$15 hingga US$700 atau sekitar Rp268 ribu hingga Rp12,4 juta untuk mendapatkan lisensi penggunaan wajah seseorang dalam konten yang dibuat menggunakan AI.
Platform tersebut menyediakan katalog wajah yang berasal dari foto yang diunggah pengguna maupun hasil pemotretan di studio tertentu. Produser dapat mencari wajah berdasarkan jenis kelamin, usia, hingga karakter seperti "girl-next-door", "rugged", atau "supermodel".
Produser juga dapat menyesuaikan pencarian dengan genre konten yang dibuat, mulai dari thriller, komedi hingga drama romantis.
Pemilik wajah pun memiliki kendali atas penggunaan citra mereka. Mereka dapat menentukan produk atau latar yang boleh menampilkan wajahnya, seperti iklan televisi, gim hingga drama pendek. Mereka juga bisa menetapkan tarif berdasarkan jenis penggunaan dan jumlah produksi yang diperbolehkan menggunakan wajah tersebut.
"Terlepas dari apakah aktor dan model memilih untuk melisensikan wajah mereka di platform kami atau tidak, AI sudah mengganggu industri ini. Menjual hak atas foto mereka memberi mereka cara untuk mendapatkan penghasilan sambil tetap melanjutkan karier mereka secara offline," kata Long Lyu, pimpinan operasional platform hak citra AI New Claw, dikutip dari Rest of World, Selasa (18/8/2026).
Pertumbuhan bisnis tersebut tidak lepas dari pesatnya produksi konten berbasis AI di China. Lebih dari 95% dari total 128.000 microdrama yang dirilis di negara tersebut selama tiga bulan pertama 2026 menggunakan AI dalam proses produksinya.
Microdrama merupakan serial video berdurasi sangat pendek dengan format vertikal yang dirancang untuk ditonton melalui ponsel. Industri ini telah berkembang menjadi bisnis bernilai miliaran dolar di China.
Namun, penggunaan AI juga memicu persoalan baru terkait hak cipta dan penyalahgunaan identitas. Jika di Amerika Serikat persoalan tersebut banyak melibatkan selebritas seperti Tom Hanks dan Scarlett Johansson, China menghadapi masalah yang lebih luas karena wajah masyarakat biasa ikut digunakan tanpa izin.
Platform drama AI milik ByteDance, Hongguo, misalnya, pernah dituding dua influencer menggunakan dan memodifikasi wajah mereka dengan AI tanpa persetujuan. Drama tersebut telah ditonton lebih dari 40 juta kali sebelum akhirnya diturunkan.
ByteDance, yang juga memiliki Douyin, versi TikTok di China, mengatakan telah menghapus lebih dari 85.000 video yang menggunakan reproduksi wajah dan suara seseorang secara tidak sah sejak awal 2026.
Pengadilan Internet Guangzhou juga telah menangani sekitar 700 perkara terkait pencurian wajah menggunakan AI selama tiga tahun terakhir.
Wajah Komoditas Baru
Salah satu platform yang mencoba mengatur perdagangan hak atas wajah adalah ActID. Platform berbasis Shenzhen ini membantu pengguna mengelola perjanjian lisensi sekaligus memantau internet untuk menemukan penggunaan wajah yang telah didaftarkan tanpa izin.
ActID juga menghubungkan pengguna dengan pengacara apabila mereka perlu mengambil langkah hukum.
Sejak diluncurkan pada Maret, ActID telah mendaftarkan sekitar 800 pengguna. Sekitar 300 orang di antaranya sepakat memberikan lisensi penggunaan citra mereka untuk produksi AI. Mereka berasal dari kalangan figuran profesional, influencer hingga masyarakat biasa yang tidak memiliki pengalaman berakting.
Sejauh ini, dua produksi drama AI telah melisensikan sekitar 10 wajah melalui ActID. Tarifnya berkisar 99 yuan hingga 500 yuan atau sekitar US$15-US$74 per episode, sementara ActID mengambil komisi 10%.
"Produser menginginkan wajah yang menarik untuk peran utama, tetapi mereka juga membutuhkan wajah yang khas seperti orang lanjut usia, misalnya," kata Camille Yan, Chief Marketing Officer ActID, kepada Rest of World.
New Claw yang berbasis di Chengdu juga beralih ke bisnis tersebut setelah bisnis rumah produksi yang sebelumnya mereka jalankan terdampak besar oleh perkembangan AI.
"Sejak akhir tahun lalu, sudah sangat jelas bagaimana kebangkitan drama AI berdampak pada industri kami. Produksi drama tradisional menurun, anggaran iklan menyusut, dan bahkan merek-merek mewah mulai beralih ke produksi yang dibuat menggunakan AI," ujar Lyu.
Menurut Lyu, melisensikan wajah seseorang lebih murah dibanding mempekerjakan orang tersebut untuk tampil secara langsung. New Claw menetapkan harga minimum 500 yuan atau sekitar US$74 per gambar untuk mencegah pengguna memasang harga terlalu rendah dan memicu perang harga.
Penggunaan wajah orang asli dinilai dapat membuat karakter dalam drama AI lebih beragam. Selama ini, penonton di media sosial mengeluhkan banyak karakter buatan AI memiliki tampilan yang serupa.
(dem/dem)