Pendiri Tokopedia Siap Buka-bukaan, Semua Boleh Tanya Langsung
Jakarta, CNBC Indonesia - Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat dan Pelindungan Pekerja Migran Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Leontinus Alpha Edison punya pesan penting bagi para pengusaha yang skalanya masih kecil. Co-founder Tokopedia itu meminta para pengusaha untuk tetap percaya diri.
Dia mencontohkan Tokopedia pada Agustus 2009 tak lama setelah diluncurkan hanya mencatatkan transaksi Rp 33 juta saja. Kemudian terus berkembang hingga sebesar sekarang.
"Nah, jadi saya enggak masalah, pengusaha di sini masih kecil, yang penting jangan enggak pede (percaya diri). Udah hajar aja. Mentor-mentor di sini banyak yang bagus-bagus," kata Leontinus dalam acara Perayaan Kolaborasi Beli Lokal Tokopedia dan TikTok Shop Indonesia, di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Dia juga mengatakan jika para pengusaha bisa menghubunginya secara langsung. Jika waktunya luang, dia mengaku masih sempat membaca pesan yang masuk ke media sosialnya dan mencoba membalasnya.
Dalam kesempatan itu, Leontinus mengungkapkan program yang disusunnya bernama Perintis Berdaya. Pengalamannya selama di Tokopedia digunakan dalam mengusung program tersebut.
Salah satu pilar dalam program tersebut adalah kebutuhan pengusaha untuk didampingi dengan mentor. Dia mengatakan para investor Tokopedia menjadi mentor dirinya dan William Tanuwijaya, yang juga mendirikan platform e-Commerce tersebut.
Pilar berikutnya adalah akses, yakni membuka kesempatan belajar dan apapun yang dibutuhkan para pengusaha seperti bahan baku dan keuangan.
Selain itu ada juga soal pembiayaan. Terdapat perbedaan saat penggalangan dana di Tokopedia dan sekarang yang dialami para pengusaha.
Leontinus mengaku dia dan William tak pernah ditanya soal aset oleh pihak yang mengucurkan dana. Berbeda dengan sekarang pengusaha ditanya soal aset.
Terkait hal tersebut, dia memiliki ambisi pribadi untuk adanya regulasi yang jelas soal hal ini. Selain soal aset, regulasi bisa juga berisi beberapa hal lain yang bisa diperhitungkan saat proses pendanaan.
"Tidak hanya berbasis aset kan. Profil bisnisnya, struktur biayanya, struktur pendapatannya, semua legal-legal-nya, dinamika pasar dan selanjutnya itu harus bisa kita nilai. Nah kita sedang mengerjakan itu, harapannya kita punya regulasi yang bisa menjadi pedoman yang lebih jelas bagaimana teman-teman analis-analis keuangan itu bisa membantu pembiayaan yang lebih inklusif," jelasnya.
Terakhir adalah pemberdayaan dan pelindungan pekerja migran, yang diakuinya cukup sulit dilakukan karena tak punya pengalaman.
Leontinus mengapresiasi Tokopedia dan TikTok Shop karena telah melakukan pilar-pilar dalam program tersebut.
"Karena yang dilakukan oleh Tokopedia Tiktok shop itu sebenarnya melakukan ini. Jadi teman-teman di sini sudah melakukan ini sebenarnya," dia menuturkan.
(dem/dem)