Petaka El Nino Makin Parah, Ilmuwan Peringatkan Dampaknya di Indonesia
Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena El Nino pada tahun 2026 ini dinilai semakin parah. Bahkan, lonjakan kekuatannya di Samudra Pasifik meningkat luar biasa hingga belum pernah terlihat sebelumnya.
Sebagai informasi, El Nino merupakan fenomena yang ditandai dengan suhu permukaan laut yang lebih hangat di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Fenomena ini berdampak signifikan terhadap pola cuaca di seluruh dunia.
El Nino dinyatakan muncul saat suhu permukaan laut mencapai 0,5 derajat Celsius di atas rata-rata jangka panjang. Berdasarkan catatan Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA), El Nino telah melewati ambang batas tersebut sejak awal Juni lalu.
Meski kenaikan awal tergolong rendah, suhu permukaan laut terus meroket hingga mencatatkan angka 2,6 derajat Celsius di atas normal pada minggu pertama Agustus. Jika tren ini berlanjut, fenomena ini berpotensi menjadi El Nino terpanas yang pernah tercatat dalam sejarah.
"Kenaikan suhu di atas 2 derajat Celsius sudah dianggap sebagai El Nino super. Jadi untuk suhu harian, kita saat ini sudah berada di wilayah El Nino kuat atau El Nino super," kata ilmuwan iklim di Berkeley Earth, Zeke Hausfather, dikutip dari IFL Science, Rabu (12/8/2026).
Bahkan, fenomena tahun ini berisiko melampaui El Nino terburuk sepanjang sejarah pada periode 1997-1998. Saat itu, lonjakan suhu ekstrem memicu krisis ekonomi global hingga menelan ribuan korban jiwa.
Hausfather juga membeberkan ancaman dampak El Nino terhadap wilayah Pasifik tropis, termasuk Indonesia. Ia mengkhawatirkan terjadinya bencana kekeringan parah di kawasan tersebut.
"Wilayah Pasifik tropis cenderung mengalami kondisi yang jauh lebih kering. Indonesia, Asia Tenggara, Australia bagian timur, Afrika bagian selatan, Amazon bagian utara, dan India berpotensi mengalami kekeringan serta angin monsun yang membebal," jelasnya.
Sementara itu di AS, El Nino akan mendorong arus jet ke arah selatan. Kondisi ini membawa cuaca lebih basah di Pantai Teluk dan California Selatan, musim dingin yang lebih hangat dan kering di Pasifik Barat Laut serta negara-negara bagian utara, hingga penurunan aktivitas badai Atlantik.
Meski tak ingin terburu-buru memprediksi apakah dampaknya akan persis seperti kejadian 1997/1998, Hausfather menekankan pentingnya kesiapsiagaan dari sekarang.
"Saya tidak ingin menimbulkan kepanikan, namun saya pikir kita harus bersiap dari sekarang menghadapi sesuatu yang belum pernah kita lihat sebelumnya," pungkasnya.
(fab/fab)