Ahli Jerman Ungkap Kesalahan Soal Danau Toba yang Sudah Lama Dipercaya

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Selasa, 11/08/2026 08:25 WIB
Foto: Danau Toba (CNBC Indonesia/Donald Banjarnahor)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gunung Toba merupakan letusan vulkanik terbesar dalam 2,6 juta tahun terakhir. Peneliti dari Jerman mengungkapkan bahwa dampak dari letusan yang menciptakan Danau Toba tersebut ke seluruh manusia di Bumi, tidak sebesar yang diperkirakan sebelumnya.

Sekitar 74.000 tahun lalu, kaldera yang kini menjadi Danau Toba mengeluarkan ribuan kilometer kubik magma dalam waktu sekitar dua minggu. Volume material yang dimuntahkan diperkirakan sekitar 1.000 kali lebih besar dibanding letusan Gunung Pinatubo pada 1991.

"Orang-orang mengira letusan itu menyebabkan pendinginan besar-besaran di planet ini, sehingga mengancam kelangsungan hidup nenek moyang kita," kata ahli geosains dari Johannes Gutenberg University Mainz, Jerman, Jinheum Park, dikutip dari d, Senin (10/8/2026).


Park dan rekan-rekannya mencari jejak bencana tersebut melalui endapan lumpur di dasar Danau Chala, sebuah danau kawah kecil di perbatasan Kenya dan Tanzania. Alih-alih menemukan bukti musim dingin vulkanik yang berkepanjangan, mereka justru menemukan bahwa dampak letusan Toba hanya berlangsung sekitar 18 bulan.

Letusan besar biasanya melepaskan sulfur dioksida ke stratosfer. Gas tersebut berubah menjadi aerosol sulfat yang memantulkan sinar Matahari dan menyebabkan pendinginan global.

Selama ini, perkiraan jumlah sulfur yang dilepaskan Toba sangat bervariasi sehingga model iklim menghasilkan skenario yang sangat berbeda, mulai dari hampir memusnahkan manusia hingga hanya menyebabkan gangguan ringan.

Untuk mengatasi ketidakpastian itu, para ilmuwan menggunakan Danau Chala sebagai arsip iklim beresolusi tinggi. Danau ini memiliki lapisan sedimen tahunan yang terbentuk seperti cincin pohon, sehingga memungkinkan peneliti merekonstruksi perubahan iklim dari tahun ke tahun.

"Ini bekerja persis seperti cincin di batang pohon," ujar Park.

Abu Toba di Danau Chala bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang. Para ilmuwan menemukannya dengan menghitung pecahan kaca mikroskopis yang berasal dari magma yang terlontar saat letusan.

Mereka kemudian menganalisis 450 tahun lapisan sedimen di sekitar periode letusan menggunakan citra mikroskop, pemindaian kimia, pembacaan isotop, dan perhitungan diatom setiap dua hingga tiga tahun.

Penelitian menunjukkan bahwa setelah letusan, diatom mengalami stres akibat langit yang meredup.

"Kami menduga lapisan hijau itu berasal dari diatom sebagai respons stres terhadap langit yang meredup. Karena mereka membutuhkan cahaya untuk tumbuh," kata Park.

Musim kering pertama setelah letusan menghasilkan ledakan populasi diatom yang kemungkinan dipicu oleh pendinginan permukaan danau. Namun, pada tahun ketiga, kondisi danau kembali normal.

"Lapisan terang yang terbentuk hampir dua tahun setelah letusan sangat khas untuk Danau Chala," ujar Park.

Berdasarkan temuan tersebut, tim menyimpulkan bahwa dampak utama letusan Toba kemungkinan hanya berlangsung sekitar **18 bulan**.

Bagaimana dampak letusan Danau Toba ke suhu Bumi?

Untuk mengukur seberapa besar pendinginan yang terjadi, para ilmuwan menganalisis rasio silikon terhadap aluminium serta mangan terhadap besi dalam sedimen danau.

Hasilnya menunjukkan pendinginan regional hanya sekitar 0,5 derajat Celsius. "Begitulah kami memperoleh perkiraan sekitar 0,5 derajat Celsius," kata Park.

Temuan ini juga memungkinkan peneliti memperkirakan waktu letusan dengan lebih presisi. Berdasarkan posisi abu dalam lapisan sedimen, letusan kemungkinan terjadi pada Januari atau Februari, bukan pada musim yang sebelumnya diperkirakan sejumlah model.

Park mengatakan letusan Toba memang menyebabkan pendinginan dan pengeringan iklim, tetapi tidak sampai mengancam kelangsungan hidup manusia secara signifikan.

"Letusan itu memang mendinginkan dan mengeringkan wilayah tersebut, tetapi tidak sampai pada tingkat yang secara signifikan mengancam kelangsungan hidup manusia," ujarnya.

Menurut dia, Afrika Timur saat itu memang sudah mengalami tren alami menuju iklim yang lebih dingin dan kering. Dibandingkan perubahan iklim alami tersebut, dampak Toba terlihat sangat kecil.

"Studi kami menunjukkan bahwa besarnya pendinginan dan pengeringan setelah Toba jauh lebih kecil dan masih berada dalam kisaran variasi alami selama siklus glasial dan interglasial. Manusia sudah pernah mengalami dan bertahan melewati kondisi itu," kata Park.

Meski demikian, Park mengakui penelitian ini memiliki keterbatasan karena hanya menggunakan satu danau sebagai sumber data.

"Danau ini merekam sinyal iklim regional di Afrika Timur, tetapi tidak menunjukkan dampaknya terhadap seluruh dunia. Harus ada lebih banyak penelitian dengan pendekatan serupa di lokasi lain yang memiliki endapan abu Toba," ujarnya.

Tim peneliti berharap metode yang sama dapat digunakan untuk mempelajari letusan-letusan supervulkan lain di dunia, termasuk Los Chocoyos di Guatemala dan Oruanui di Selandia Baru.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi Fintech Lending Atasi Gap Kredit UMKM Sebesar Rp2.400 T