Debu dari Luar Bumi Mengandung Racun yang Bisa Masuk ke Makanan
Jakarta, CNBC Indonesia - Perjalanan ke Mars ternyata menyimpan ancaman tersembunyi yang sebelumnya tak terbayangkan. Debu yang menutupi seluruh permukaan Planet Merah ternyata mengandung racun yang dapat merusak paru-paru dan membahayakan nyawa para astronaut. Itulah temuan yang dikaji secara mendalam oleh tim ahli yang dibentuk NASA.
Sebelumnya, para astronot misi Apollo sudah merasakan betapa merepotkannya debu Bulan yang tajam dan kasar. Namun debu Mars ternyata memiliki bahaya yang berbeda dan justru lebih mengerikan. Meskipun butirannya lebih halus dan tidak setajam debu Bulan, debu Mars mengandung zat-zat kimia berbahaya yang tidak ditemukan di Bulan.
"Di Mars, partikel debu sedikit lebih membulat dan tidak melukai secara fisik. Namun masalahnya, debu ini mengandung komponen kimia dan mineral tambahan yang tidak ada di Bulan, termasuk perklorat yang sangat berbahaya bagi kesehatan," jelas Brian Hynek, peneliti dari Universitas Colorado Boulder dan anggota tim kajian NASA, seperti dikutip oleh Space.com.
Kajian yang dilakukan Kelompok Kerja NASA mengungkapkan bahwa debu Mars mengandung silika yang bersifat karsinogenik serta berbagai logam berat. Yang lebih mengkhawatirkan, tanah Mars juga penuh dengan senyawa kimia berbahaya yang dapat masuk ke dalam tubuh tidak hanya melalui pernapasan, melainkan juga melalui makanan yang akan ditanam di sana.
"Ada rencana menanam tanaman pangan di Mars. Padahal tanah Mars penuh dengan zat kimia berbahaya tersebut. Artinya, para astronaut bisa saja menerima paparan racun lebih banyak dari hasil panen yang mereka tanam sendiri daripada sekadar debu yang terhirup di udara," tambah Hynek.
Kondisi makin berisiko karena debu halus itu mudah menempel pada pakaian luar angkasa dan terbawa masuk ke dalam hunian. Di lingkungan bertekanan rendah dan kering khas Mars, partikel debu terus melayang-layang di udara dan berulang kali terhirup oleh para astronot dalam jangka waktu yang lama.
Menanggapi bahaya tersebut, NASA menyusun pedoman batas paparan debu Mars bagi manusia. Para ahli menekankan bahwa cara terbaik melindungi diri adalah mencegah debu masuk sejak awal, bukan mengandalkan pengobatan setelah terpapar.
"Strategi terbaik adalah pencegahan. Usahakan debu tetap berada di luar, segera bersihkan jika masuk ke dalam, pantau partikel di udara, dan rancang sistem sedemikian rupa agar para kru tidak harus bergantung pada penanganan medis setelah terpapar," tegas Shaunna Morrison, anggota tim kajian dari Universitas Rutgers.
Hingga saat ini, belum ada sampel debu Mars yang dikembalikan ke Bumi untuk diuji langsung di laboratorium. Oleh karena itu, para ahli menyusun standar keselamatan berdasarkan data dari wahana penjelajah Mars, studi simulasi di laboratorium, serta pengalaman dari debu Bulan. Standar tersebut akan terus diperbarui seiring bertambahnya data penelitian.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]