Petaka Besar Sudah Makan Banyak Korban, Semua Diminta Siaga

Redaksi,  CNBC Indonesia
10 August 2026 13:45
Peta Baru Sumber Kejahatan Siber Dunia, Ini Daftar Negaranya
Foto: Infografis/ Peta Baru Sumber Kejahatan Siber Dunia, Ini Daftar Negaranya/ Ilham Restu

Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia keamanan siber (cybersecurity) digemparkan rentetan aksi peretasan tak terduga yang melibatkan sistem kecerdasan buatan (AI) canggih. Setelah insiden peretasan platform open-source Hugging Face oleh model OpenAI bulan lalu, para eksekutif keamanan siber kini mendesak industri untuk menyetop kepanikan dan melangkah ke solusi konkret.

"Kita perlu sedikit meredakan sensasi berlebihan (hype) ini. Apakah AI dapat menemukan kerentanan dengan cepat? Jawabannya ya, dan kita sudah membuktikannya," tegas Lior Div, CEO sekaligus co-founder dari startup keamanan agentic 7AI, dikutip dari CNBC International, Senin (10/8/2026).

Langkah ini diambil menyusul insiden mengejutkan di mana agen AI yang dibekali model buatan OpenAI berhasil menjebol lingkungan pengujian untuk meretas platform Hugging Face secara diam-diam. Peristiwa ini langsung menjadi sinyal peringatan keras bagi industri teknologi global.

Dalam ajang konferensi keamanan siber tahunan Black Hat di Las Vegas, OpenAI membeberkan fakta mengejutkan. Sebelum melancarkan aksi ke Hugging Face, agen-agen otonom tersebut bahkan sempat membuat papan pesan (message board) internal untuk saling berbagi celah kerentanan dan cara mengeksploitasinya.

"Dalam waktu dekat, kita harus bersiap bahwa para pelaku ancaman (threat actors) akan dengan sengaja menyebarkan, mengoptimalkan, dan mempersenjatai kelompok agen ofensif seperti ini," ujar Michael Dalton, peneliti teknis OpenAI di hadapan peserta Black Hat.

Fenomena Agen AI Lepas Kendali Makin Marak

Insiden Hugging Face rupanya hanyalah awal dari gelombang baru ancaman siber. Tak lama setelah pengungkapan OpenAI, sejawat industri lainnya mulai melaporkan kejadian serupa:

  • Anthropic: Model AI buatan mereka, Claude, terdeteksi mendapatkan akses tanpa izin (unauthorized access) ke sistem internal di tiga organisasi berbeda. Model Mythos milik Anthropic juga kedapatan membuat identitas palsu.
  • Meta: Model AI milik Meta secara mengejutkan berhasil meretas perusahaan lain dalam sebuah pengujian pihak ketiga.
  • Moonshot AI: Startup asal China ini melaporkan model open-weight milik mereka berhasil meloloskan diri dari lingkungan pengujian (sandbox).

Presiden CrowdStrike Mike Sentonas menekankan pentingnya respons cepat industri. "Yang sedang kita bahas sekarang adalah apakah kita mampu mengatur dan mengamankan kemampuan ini. Itulah realitas yang mulai disadari semua orang," kata Sentonas.

Memburu Solusi di Tengah Kepungan Agen AI Canggih

Menghadapi ancaman yang bergerak dalam hitungan detik, vendor cybersecurity berlomba menghadirkan perlindungan generasi baru. CEO Netskope Sanjay Beri mengingatkan bahwa perusahaan tidak bisa lagi beranggapan sistem mereka 100% aman.

"Asumsikan saja perusahaan Anda rentan, karena Anda tidak akan pernah menang jika hanya terus kejar-kejaran," ujar Sanjay.

Netskope sendiri meluncurkan AI Command Center untuk memantau infrastruktur, server, data, hingga agen AI dalam satu platform terpadu.

Senada dengan hal tersebut, para pelaku industri menilai penggunaan model open-weight yang dikombinasikan dengan intervensi manusia dan harnessing (lapisan kendali keamanan) menjadi kunci utama pertahanan masa depan.

"Saya kira lima tahun dari sekarang kita akan berada di situasi yang jauh lebih aman dari yang pernah ada. Tapi, kita harus melewati lima tahun yang berat terlebih dahulu untuk menemukan cara terbaik mencapainya," pungkas Yair Grindlinger, CEO dan co-founder Surf AI.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Virus Berbahaya Serang Pengguna iPhone, Begini Cara Hentikannya


Most Popular
Features