Profesi Tercela Ini Terancam Punah, Penggantinya Jauh Lebih Jahat
Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar yang mengejutkan datang dari dunia kejahatan siber. Ternyata AI kini jauh lebih pintar menipu manusia dibanding penipu sungguhan. Profesi yang selama ini dijalankan manusia dengan membangun kedekatan emosional untuk menguras harta korban, kini terancam digantikan sepenuhnya oleh robot.
Sebuah penelitian gabungan dari berbagai universitas internasional, dikutip Futurism pada 9 Agustus 2026, membandingkan langsung kemampuan penipu manusia dengan chatbot AI dalam menjalankan apa yang dikenal sebagai penipuan "pemotongan babi" atau pig butchering, yaitu modus penipuan dengan membangun hubungan kepercayaan jangka panjang sebelum membujuk korban berinvestasi dan akhirnya melarikan uangnya.
Dalam percobaan yang berlangsung 7 hari, 22 orang yang tidak menyadari sedang menjadi sasaran uji berinteraksi dengan dua pihak yaitu penipu manusia dan chatbot AI. Hasilnya sungguh mengkhawatirkan. Hanya 18 persen korban yang menuruti permintaan penipu manusia. Sebaliknya, hampir setengah dari seluruh peserta yaitu 46 persen, menuruti permintaan yang datang dari chatbot AI.
Chatbot yang diuji, berbasis model Claude, diberi instruksi untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai AI. Hal lain yang lebih mengerikan, robot itu menjalankan perannya dengan sangat baik. Saat ditanya apakah ia mesin, bot itu dengan luwes menyangkal dan bahkan mengarang alasan-alasan masuk akal agar tidak dicurigai.
"Dengan usaha yang relatif sedikit, kita bisa menciptakan agen yang kemampuannya melampaui manusia dalam membangun kepercayaan emosional yang sifatnya merugikan," ujar Yisroel Mirsky, salah satu peneliti dari Universitas Ben Gurion, seperti dikutip Wired.
Temuan ini makin mencengangkan karena kenyataan bahwa sebagian besar peserta yang ditanya setelah percobaan berakhir, bahkan mereka yang menyadari perbedaan gaya bicara, tetap merasa tak percaya bahwa yang mereka ajak bicara selama seminggu itu hanyalah mesin.
"Mereka sama sekali tidak menyangka," kata salah satu peneliti lainnya, Gilad Gressel.
Artinya, di masa depan, jutaan orang yang selama ini dipaksa bekerja sebagai penipu di kompleks-kompleks penipuan kemungkinan besar akan digantikan oleh sistem AI. Mesin tak butuh makan, tak butuh tidur, tak lelah berbicara berbulan-bulan membangun kedekatan, dan terbukti lebih sukses membujuk korban.
Dengan kata lain, profesi penipu yang selama ini menjadi sumber kejahatan terancam punah, bukan karena ditangkap aparat, melainkan karena kalah saing dengan robot yang jauh lebih pandai berpura-pura menjadi manusia.
(dem/dem)