Pembeli Switch Minta Uang Kembali Karena Nintendo Untung Gede, Ditolak

Redaksi, CNBC Indonesia
Jumat, 07/08/2026 19:40 WIB
Foto: Nintendo Switch 2. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perusahaan gim asal Jepang, Nintendo, mencatatkan lonjakan laba yang luar biasa. Namun angka itu ternyata bukan semata-mata dari larisnya produk, melainkan karena pengembalian dana tarif impor yang sudah telanjur dipungut oleh pemerintah Amerika Serikat.

Berdasarkan keterangan resmi perusahaan yang dikutip Jumat (7/8/2026), laba bersih Nintendo melonjak 53,5 persen menjadi 147,4 miliar yen atau sekitar Rp 15 triliun pada kuartal April-Juni, jauh melampaui perkiraan para analis. Secara keseluruhan padahal pendapatan justru turun 10 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Kunci keuntungan besar ini adalah keputusan Mahkamah Agung AS pada Februari lalu yang menyatakan tarif dagang yang diterapkan pemerintahan mantan Presiden Donald Trump adalah tidak sah.


Nintendo yang sempat menggugat kebijakan itu akhirnya mendapatkan pengembalian tarif impor yang sebelumnya telah dibayarkan. Pemerintah AS dikabarkan telah mengembalikan total sekitar US$100 miliar dari total US$165 miliar tarif yang sempat ditarik, dan Nintendo menjadi salah satu penerimanya.

Kabar gembira bagi perusahaan ini justru memicu kemarahan para pembeli. Sebelumnya, saat tarif berlaku, Nintendo diketahui menaikkan harga konsol dan perangkat gim di pasar AS dengan alasan biaya tambahan tersebut. Kini setelah uang itu dikembalikan ke perusahaan, konsumen merasa berhak mendapatkan bagiannya kembali.

Sebuah gugatan perwakilan kelompok telah diajukan menuntut Nintendo mengembalikan selisih harga kepada para pembeli. Penggugat menilai perusahaan mengambil keuntungan ganda. Ppertama dari harga yang dinaikkan ke konsumen, kedua dari pengembalian dana pajak tersebut.

Namun, pihak Nintendo menolak tuntutan itu. Melalui pernyataan pengacaranya, perusahaan menegaskan harga yang dibayar konsumen adalah harga wajar atas barang yang diterima, dan gugatan tersebut tidak memiliki dasar hukum yang kuat.

Di tengah sengketa ini, Donald Trump kembali memberlakukan tarif baru terhadap lebih dari 80 negara, termasuk Jepang. Kebijakan ini dikhawatirkan akan kembali membebani industri gim dan elektronik. Namun di sisi lain, koalisi 25 negara bagian di AS kini juga menggugat tarif baru tersebut, yang berpotensi membuka peluang pengembalian dana serupa di masa mendatang.

Saham Nintendo sendiri justru naik 2,87 persen di pasar Tokyo menyusui rilis laporan keuangan tersebut.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Inovasi Fintech Lending Atasi Gap Kredit UMKM Sebesar Rp2.400 T