Raja Ojol Tutup di RI, Sekarang Menggila Ancam Driver Online

Redaksi, CNBC Indonesia
Kamis, 06/08/2026 19:20 WIB
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa ride hailing Uber akan terus meningkatkan strategi bisnis taksi robot tanpa sopir (robotaxi), yang mengancam profesi driver online. Perusahaan menyiapkan lebih dari US$10 miliar (Rp 180 triliun) untuk memperluas jaringan layanan tersebut.

CEO Uber Dara Khosrowshahi mengatakan pihaknya ingin menjadi pemenang jangka panjang dalam perlombaan kendaraan otonom. Termasuk membangun platform komersialisasi terbesar untuk mobilitas otonom terbesar yang ada di dunia.

Dia juga memastikan investasi selama beberapa tahun ke depan dilakukan karena posisi keuangan perusahaannya yang kuat, dikutip dari Traders Union, Kamis (6/8/2026).

Rencananya Uber akan membuka layanan taksi robot pada 15 kota tahun ini. Ambisi itu tetap dilakukan di tengah kekhawatiran bisnis baru tersebut akan mengganggu layanan transportasi daring yang menjadi inti bisnis Uber.

Sebelumnya, perusahaan bersama mitranya Wayve telah mengantongi izin peluncuran layanan robotaxi komersial dengan tetap ada orang mengawasi di belakang kemudi di London.

CEO Wayve, Alex Kendall mengatakan persetujuan dari Transport for London menjadi langkah besar bagi Inggris. Termasuk memungkinkan mulai menawarkan layanan transportasi di London dalam beberapa minggu ke depan.

Dalam laporan keuangannya, Uber mencatatkan arus kas bebas US$2,8 miliar (Rp 50,1 triliun) pada kuartal kedua. Total selama setahun mencapai US$10,1 miliar.

Sementara pemesanan kotor meningkat 24% selama setahun menjadi US$58 miliar (Rp 1.039 triliun) Pendapatan perusahaan sebesar US$14,2 miliar (Rp 254,3 triliun) dengan meningkat 12% dan pendapatan operasioanl US$1,9 miliar (Rp 34 triliun) selama kuartal kedua.

Uber diketahui pernah beroperasi di Indonesia, dengan menghadirkan layanan ojek online (ojol) dan taksi online. Namun, raksasa asal AS ini angkat kaki dari pasar Asia Tenggara, termasuk Indonesia, sejak 2018.


Uber menyerahkan seluruh operasionalnya di Asia Tenggara ke Grab. Perusahaan lebih memilih memprioritaskan bisnis di beberapa pasar inti seperti AS, Eropa, dan Timur Tengah.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Akselerasi AI Indonesia Hadapi Tantangan Data Silo, Solusinya?