TikTok Mendadak Tutup Kantor, PHK Ratusan Karyawan di Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) melanda raksasa teknologi. Terbaru, layanan media sosial TikTok secara mendadak mengumumkan akan menutup kantornya di Nashville, Amerika Serikat (AS).
Perusahaan akan memangkas seluruh karyawan lokal di lokasi tersebut. Langkah ini cukup mengejutkan, sebab pada April 2024 lalu, TikTok baru saja menandatangani kontrak sewa ruang seluas kira-kira 13.000 meter persegi di kawasan bergengsi Music Row.
Transaksi properti komersial itu bahkan mencatatkan rekor terbesar di Nashville pada tahun tersebut dan melipatgandakan ruang kerja TikTok hingga tiga kali lipat. Pihak manajemen mengonfirmasi langkah efisiensi ini merupakan bagian dari restrukturisasi global.
"Kami telah memutuskan untuk menutup kantor Nashville demi menyederhanakan operasional dan menyelaraskan tim untuk pertumbuhan jangka panjang," tegas Juru Bicara TikTok USDS Joint Venture dalam keterangan resminya kepada The Tennessean, dikutip Kamis (6/8/2026).
"Kami tetap berkomitmen penuh untuk menyediakan pengalaman yang aman dan positif bagi 200 juta pengguna kami di Amerika Serikat," perusahaan melanjutkan.
Ekspansi Masif yang Terhambat Isu Keamanan-Politik
Sebelumnya, Nashville dipilih karena lokasinya yang strategis dan dekat dengan pusat ekosistem kreator serta agensi musik papan atas seperti Iffert Media, Innovo Management, dan Alchemy Artist Services. TikTok sendiri sebelumnya sudah hadir di kota tersebut selama beberapa tahun dengan menyewa beberapa lantai di gedung WeWork.
Langkah penutupan ini terjadi di tengah ekspansi agresif TikTok dan ByteDance sepanjang 2024 yang membuka sejumlah kantor di pusat ekonomi AS, mulai dari Silicon Valley, Seattle, Texas, New York, hingga Los Angeles.
Meski terus memperluas cengkeramannya di AS, nasib bisnis TikTok tidak pernah lepas dari tekanan politik. Langkah ekspansi TikTok di Nashville sempat mendapat penolakan keras dari Senator asal Tennessee, Marsha Blackburn, yang secara terbuka menuding aplikasi video pendek tersebut sebagai ancaman bagi keamanan nasional AS.
TikTok juga terpaksa menyerahkan operasionalnya ke investor AS dan menciptakan entitas gabungan baru yang bernama TikTok USDS Joint Venture. Hal ini dikarenakan pemerintahan Trump menilai terlalu berisiko jika layanan populer tersebut beroperasi di AS, tetapi induknya berasal dari China.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]