Tarif Listrik Naik Gila-gilaan Demi AI, Rakyat Kecil Bayari Orang Kaya
Jakarta, CNBC Indonesia - AI membuat tagihan listrik menjadi lebih mahal. Sejumlah negara bagian di Amerika Serikat (AS) melaporkan peningkatan beban biaya listrik.
Operator jaringan listrik seperti PJM Interconnection mencakup 13 negara bagian mengadakan lelang kapasitas untuk memastikan pasokan listrik tersedia. Dari lelang tersebut terdapat tambahan tagihan US$6,3 miliar selama tiga tahun, dan inilah yang akan dibebankan kepada pelanggan.
Laporan The New York Times dan Utility Dive menyebutkan sebagian besar peningkatan beban biaya itu berasal dari pusat data.
"Pelanggan biasa membiayai infrastruktur beberapa perusahaan terkaya di dunia," kata analis keuangan Michael Ryan, dikutip Gadget Review, Rabu (3/8/2026).
Salah satu kenaikan terjadi di Illinois sebesar 28% menjadi 23,85 sen per kWh. Di Virginia yang merupakan tempat pusat data terpadat, Data Center Alley, meningkat 15,4% menjadi 17,61 sen per kWh.
Biaya tertinggi terjadi di Hawaii dengan sebesar 52 sen/kWh. Kenaikan di wilayah tersebut mencapai 26,7%.
Georgia dan Texas juga mengalami peningkatan 5,7% dan 5,9%. Harganya kini menjadi masing-masing 15,84 sen/kWh dan 16,44 sen/kWh.
Arie Brish yang merupakan profesor bisnis mengatakan beban biaya tarif listrik kepada setiap masyarakat merupakan pilihan kebijakan. Seharusnya pusat data menjadi pengembang real estat besar, dengan melakukan perjanjian mengikat dan dinegosiasikan sebelumnya mengenai siapa yang mendanai pembangkit listrik, transmisi dan kapasitas cadangan.
Pemerintah Donald Trump juga telah mendesak perusahaan teknologi untuk menanggung biaya energi sendiri. Sejumlah perusahaan seperti Microsoft dan Anthropic telah membuat komitmen serupa.
Namun janji tersebut tidak memiliki kekuatan hukum atau mekanisme penegakan, catat Gadget Review. Sementara MultiState melaporkan 27 negara bagian tengah mengajukan aturan yang mewajibkan pusat data bisa membiayai perluasan jaringan listrik sendiri.
(dem/dem)