Rekening Bobol Walau Tak Tersambung Internet, Rp 1,59 Triliun Lenyap

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Rabu, 05/08/2026 18:00 WIB
Foto: dok Ledger

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelombang serangan siber terhadap pengguna dompet kripto hardware wallet Coldcard memicu kekhawatiran baru di industri aset digital. Dalam insiden tersebut, aset kripto senilai US$88,6 juta atau sekitar Rp1,59 triliun (kurs Rp18.000/US$) dilaporkan raib.

CEO Coinkite Inc., Rodolfo Novak, mengakui perkembangan kecerdasan buatan (AI) telah menghadirkan tantangan baru bagi keamanan perangkat lunak. Pernyataan itu disampaikan menyusul insiden pencurian aset kripto tersebut, yang memicu peringatan bahwa AI kini mengubah pola ancaman siber dengan kemampuan mendeteksi celah perangkat lunak yang makin canggih.

"Kami meyakini ini adalah kenyataan pahit dari paradigma AI baru," ujar Novak dalam permintaan maafnya kepada pengguna, seperti dikutup RT, Rabu (5/8/2025). Menurutnya, proses peninjauan kode yang dibantu AI kini mampu menemukan bug tersembunyi jauh lebih cepat dibandingkan kemampuan para pakar keamanan siber berpengalaman.


Coldcard selama ini dikenal sebagai salah satu hardware wallet yang mengandalkan metode cold storage, sehingga kunci privat pengguna disimpan secara offline dan dianggap lebih aman dibandingkan penyimpanan aset di bursa kripto. Namun, dalam kasus ini, pelaku tidak meretas perangkat secara langsung, melainkan memanfaatkan kelemahan algoritma angka acak sehingga dapat mengetahui kunci pengguna dan menguras dana mereka.

Novak menegaskan bahwa setiap firmware yang bersifat open-source atau pernah dipublikasikan harus diasumsikan telah dipelajari baik oleh pihak yang ingin memperkuat keamanan maupun oleh pelaku kejahatan siber. Karena itu, Coinkite meminta seluruh pengguna segera memperbarui firmware yang dirilis pada Maret 2021 dan memindahkan Bitcoin ke dompet baru yang menggunakan seed phrase atau frasa pemulihan yang baru.

Platform keuangan digital Galaxy mengungkapkan telah mengidentifikasi tiga gelombang serangan terhadap pengguna Coldcard hingga Minggu lalu. Total aset yang dicuri mencapai 1.367,05 BTC dengan nilai sekitar US$88,6 juta atau Rp1,59 triliun. Sehari kemudian, Galaxy memperingatkan kemungkinan adanya gelombang serangan keempat yang dapat membuat total kerugian meningkat menjadi 2.055 BTC, setara sekitar US$130 juta atau Rp2,34 triliun.

Insiden tersebut menjadi pengingat bahwa hardware wallet tidak sepenuhnya bebas risiko meski selama ini dianggap sebagai metode penyimpanan aset kripto paling aman. Kerentanan pada perangkat lunak tetap dapat dimanfaatkan pelaku untuk mengakses dana pengguna tanpa harus menyerang perangkat secara fisik.

Di sisi lain, sejumlah pengamat industri menilai transparansi transaksi blockchain masih memberikan peluang untuk melacak pergerakan aset hasil pencurian. Salah satu pengamat bahkan menyarankan pelaku mengembalikan dana tersebut dan menerima imbalan keamanan (bug bounty) melalui negosiasi dengan Coinkite, sebagai solusi yang dinilai lebih menguntungkan dibandingkan berupaya mencairkan aset curian.


(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Potensi Tokenisasi Aset Jadi Investasi Digital Masa Depan