17 Perusahaan China Digerebek, 330 Intel Dikerahkan Amankan 114 Orang

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 05/08/2026 13:50 WIB
Foto: Sebuah miniatur pesawat tempur China terlihat di depan bendera China dan Taiwan. (REUTERS/Dado Ruvic)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik antara Taiwan dan China kembali memanas. Kali ini, kedua negara terlibat 'perang' teknologi, lebih spesifik terkait talenta digital. 

Pemerintah Taiwan melancarkan penggerebekan terhadap 17 perusahaan asal China yang dituduh secara ilegal membajak para ahli chip dan talenta teknologi terbaik dari pulai tersebut.

Biro Investigasi Kementerian Kehakiman Taiwan melaporkan, sepanjang 13 Juli hingga 4 Agustus, sebanyak 330 agen dikerahkan untuk menggeledah 64 lokasi. Operasi senyap ini menyasar kantor-kantor gelap milik korporasi China yang beroperasi tanpa izin. Dalam penggerebekan terkoordinasi tersebut, sedikitnya 114 orang telah diperiksa secara intensif.


Langkah tegas ini diambil di tengah sengitnya perlombaan penguasaan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) global. Sebagai raja semikonduktor dunia, Taiwan menilai pembajakan SDM secara agresif oleh Beijing berpotensi merusak dominasi dan keunggulan kompetitif industri chip domestik.

"Industri strategis ini terus ditargetkan oleh perusahaan China yang mencoba merekrut talenta inti kami. Ini berpotensi mengikis keunggulan utama Taiwan," tegas Biro Investigasi Taiwan dalam keterangan resminya, dikutip dari Reuters, Rabu (5/8/2026).

Beberapa nama besar yang terseret dalam pusaran investigasi ini merupakan emiten teknologi kawakan yang terdaftar di bursa China, antara lain:

  • ACM Research Shanghai (Produsen peralatan semikonduktor)

  • Goke Microelectronics (Perancang IC)

  • Actions Technology (Pengembang chip)

  • Zhuhai CosMX Battery (Pemasok baterai konsumen)

Modus Operasi Penyamaran

Berdasarkan temuan otoritas Taiwan, perusahaan-perusahaan asal China tersebut kerap menggunakan modus 'kucing-kucingan' untuk mengelabui hukum. Mereka menyamar sebagai entitas bisnis lokal Taiwan atau investor asing, lalu membuka kantor perwakilan ilegal untuk memburu para insinyur berbakat.

Langkah tegas Taipei sejatinya bukan hal baru. Pada Maret lalu, operasi serupa juga sempat digencarkan untuk membendung infiltrasi Beijing di industri mikroelektronika.

Secara regulasi, hukum Taiwan memang melarang keras masuknya investasi China pada sektor-sektor sensitif, seperti desain chip (IC design). Sementara untuk sektor pengemasan (chip packaging), Taiwan menerapkan proses review super ketat.

Aturan ketat inilah yang memicu perusahaan-perusahaan China nekat menghalalkan segala cara-termasuk lewat jalur 'belakang'-demi mencuri resep rahasia dan talenta terbaik dari industri semikonduktor Taiwan.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data