Cari Kerja Kantoran Susah, Gen Z Ramai-Ramai Jadi Kuli Gaji Segini
Jakarta, CNBC Indonesia - Ledakan industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) membuat pasar tenaga kerja bergeser. Di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda perusahaan teknologi besar seperti Microsoft, Meta, dan Amazon, permintaan terhadap pekerja "kerah biru" (blue-collar) justru meningkat tajam.
Salah satu profesi yang kini menjadi incaran perusahaan AI adalah teknisi listrik (electrician). Menurut pembawa acara televisi Mike Rowe, perusahaan AI di Silicon Valley berani membayar teknisi listrik Gen Z hingga US$280.000 per tahun (sekitar Rp5 miliar).
Tahun ini saja, lebih dari 120.000 pekerja teknologi di berbagai perusahaan besar kehilangan pekerjaan. Namun, di saat banyak pekerjaan kantoran terpengaruh akibat meningkatnya penggunaan AI, permintaan terhadap pekerjaan teknis seperti teknisi listrik justru kembali melonjak.
Dalam podcast Power Players, Rowe mengatakan para teknisi listrik muda yang ia temui di pusat data (data center) AI di Plano, Texas, memperoleh pendapatan yang sangat tinggi.
"Para teknisi listrik yang saya wawancarai dan temui dua bulan lalu di sebuah data center di Plano, Texas, semuanya berusia di bawah 30 tahun, dan semuanya menghasilkan US$240.000 hingga US$280.000 per tahun," kata Rowe, dikutip dari India Today, Jumat (31/7/2026).
Ia juga mengklaim para teknisi listrik Gen Z tersebut tidak terbebani utang pendidikan dan sering diincar oleh perusahaan lain.
"Mereka bisa bekerja lembur sebanyak yang mereka inginkan, tidak punya utang, dan ketiganya dibajak perusahaan lain tiga kali dalam 18 bulan terakhir," ujarnya.
Pendorong Utama: Pembangunan Infrastruktur AI
Lonjakan permintaan ini didorong oleh pesatnya pembangunan infrastruktur AI, terutama pusat data yang menjadi tulang punggung operasional model AI. Untuk menjalankan sistem AI, perusahaan membutuhkan pusat data yang berisi ribuan GPU, sehingga pembangunan data center terus meningkat demi memenuhi permintaan.
Kondisi tersebut memicu kebutuhan besar terhadap:
- Teknisi listrik
- Tukang las (welder)
- Manajer konstruksi di lokasi proyek
Laporan Fortune menyebutkan bahwa pekerja konstruksi yang terlibat dalam proyek data center menerima premi upah sekitar 32% lebih tinggi dibandingkan proyek konstruksi tradisional di Amerika Serikat. Tambahan pendapatan tersebut mencapai sekitar US$81.800 per tahun.
Tren Global dan Kelangkaan Tenaga Kerja
Pembangunan data center juga diperkirakan meningkat pesat di India. Google telah mengumumkan proyek Google AI Hub senilai US$15 miliar di Visakhapatnam, sementara Meta membangun data center melalui kemitraan dengan Reliance Jio.
Di sisi lain, sektor konstruksi data center dilaporkan menjadi sektor konstruksi yang paling mengalami keterbatasan kapasitas secara global:
- Turner & Townsend mencatat 71% pasar yang disurvei menghadapi kekurangan tenaga kerja untuk proyek data center.
- Temuan Deloitte menunjukkan lowongan pekerjaan di sektor data center naik 64% sepanjang 2023 hingga 2025.
- Lowongan untuk teknisi kelistrikan melonjak lebih dari 180%.
Di luar proyek data center AI, pekerjaan kerah biru seperti tukang ledeng, mekanik, dan teknisi umum juga tetap memiliki permintaan yang tinggi. Laporan terbaru dari Resume Now bahkan menyebut profesi pemadam kebakaran sebagai pekerjaan keterampilan teknis yang paling kecil kemungkinannya untuk digantikan oleh AI.
(fab/fab)