46 Orang Ditangkap Kasus Terorisme, Pemerintah Ungkap Peran Pengusaha
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Rusia menuduh pengusaha kaya pendiri Telegram, Pavel Durov, terlibat dalam kasus terorisme. Ia bahkan tuding memiliki hubungan erat dengan jaringan mata-mata Ukraina.
Dinas Keamanan Federal (FSB) dan Komite Investigasi Rusia menyatakan bahwa dinas rahasia Ukraina menggunakan chatbot yang tersedia di Telegram bernama Daivinchik/Leo untuk merekrut generasi muda Rusia, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis (30/7/2026).
Modusnya, intelijen Ukraina menggunakan chatbot kencan tersebut untuk menyamar sebagai wanita muda. Mereka menjebak anak-anak muda untuk melakukan tindakan kriminal, seperti aksi sabotase hingga operasi terorisme.
Setidaknya 46 warga negara Rusia berusia 12 hingga 22 tahun telah ditangkap terkait kasus ini dalam setahun terakhir. Mereka diketahui direkrut melalui metode tersebut untuk menyerang aparat penegak hukum atau membakar fasilitas infrastruktur transportasi, energi, komunikasi, dan keuangan.
Imbas kasus ini, Durov kini telah dimasukkan ke dalam daftar buronan internasional. Kendati demikian, belum dijelaskan secara terperinci mekanisme hukum yang digunakan untuk menetapkan status tersebut.
Seorang sumber menyebutkan, jika Rusia mengajukan permohonan Red Notice ke Interpol, prosesnya kemungkinan besar tidak akan berlangsung cepat.
Saat ini, Durov diketahui bermukim di Dubai, Uni Emirat Arab (UEA)-negara yang memiliki hubungan diplomatik erat dengan Rusia. Meski begitu, keputusan untuk mengekstradisi Durov dinilai berisiko merusak citra Dubai sebagai pusat teknologi dan bisnis yang menarik bagi perusahaan global.
Sebagai respons atas tuduhan tersebut, akun resmi Telegram di platform X mengunggah foto bosnya yang memperagakan gestur mengacungkan jari tengah.
Sebelumnya, Rusia juga telah membatasi akses layanan Telegram di dalam negeri. Langkah ini merupakan bagian dari kampanye pemerintah setempat untuk memutus akses ke platform teknologi asing sekaligus memperketat kontrol terhadap jaringan internet.
Akibat pembatasan tersebut, masyarakat lokal harus menggunakan jaringan privat virtual (Virtual Private Network/VPN) untuk mengakses Telegram. Di sisi lain, platform pesaing WhatsApp ini juga telah menjadi medan perang virtual antara Rusia dan Ukraina yang dimanfaatkan oleh berbagai pihak berpengaruh untuk saling menyerang propaganda.
(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]