Super El Nino 2026 Makin Ganas, Pakar BRIN Ungkap Dampaknya di RI

Intan Rakhmayanti, CNBC Indonesia
Selasa, 28/07/2026 11:40 WIB
Foto: Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong petani mulai mengadopsi teknologi hemat air untuk menghadapi ancaman musim kemarau yang semakin tidak menentu, termasuk potensi El Nino “Godzila” yang diprediksi BRIN beberapa waktu lalu. (Dok. Humas Kementan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Super El Nino 2026 diperkirakan akan makin menguat dalam beberapa pekan mendatang. Fenomena tersebut diungkapkan oleh pakar klimatologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Erma Yulihastin.

Ia menyebut El Nino tahun ini berkembang jauh lebih cepat dibandingkan peristiwa serupa pada 2023, dan bahkan diprediksi mencapai kategori Super El Nino pada Agustus 2026.

"El Nino diprediksi akan terus menguat dan mencapai SUPER pada Agustus 2026 berdasarkan data dari BOM (Bureau of Meteorology Australia) dan JAMSTEC (Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology)," tulis Erma dalam akun X pribadinya, @EYulihastin, dikutip Selasa (28/7/2026).


Sesuai prediksi, kata dia, intensitas El Nino terus menanjak. Indeks El Nino telah mencapai 1,74 derajat Celsius, yang menandakan status El Nino kuat dan bahkan telah melampaui puncak El Nino 2023.

"Nilai ini lebih tinggi jika dibandingkan dengan puncak El Nino 2023. Fix, El Nino 2026 akan jauh lebih kuat dibandingkan 2023," kata Erma.

Begitu pula dengan dampak yang ditimbulkannya. Erma menyebut, badai-badai tropis di Samudra Pasifik akan lebih intens dan semakin sering terbentuk.

Badai-badai ini memicu banjir di wilayah Amerika, Filipina, serta negara-negara di lintang menengah hingga tinggi di Belahan Bumi Utara (Northern Hemisphere), karena badai dari Samudra Pasifik akan bergerak ke utara.

Sementara itu, Indonesia akan menjadi daerah bayangan hujan dari Samudra Pasifik, alias terimbas kekeringan yang bakal makin hari makin meluas.

Jadi secara perilaku dan dampak, El Nino 2026 disebut lebih agresif, lebih meluas, serta homogen dampak kekeringannya dibandingkan dengan tahun 2023.

Hanya sebagian kecil wilayah Indonesia yang masih tetap basah saat El Nino, yaitu di wilayah Sumatra bagian utara, sebagian Sulawesi, dan Kalimantan bagian utara yang berbatasan dengan Brunei dan Malaysia.

Oleh karena itu, wilayah-wilayah yang rentan dengan Karhutla seperti Kalimantan Barat, Timur, Tengah, Selatan, dan Sumsel harus dicegah dari kejadian tersebut, apalagi di kawasan gambut.

"Sebab perpaduan udara yang kering, angin yang lemah, serta absennya hujan dalam waktu lama (prolonged dry spells) memicu sebaran hotspot yang masif dan menjadi lingkungan yang sangat mendukung bagi api untuk lekas menyebar luas," pungkasnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perkuat Data Center AI: Infrastruktur Berkelanjutan Jadi Kunci