LinkedIn Dituduh Sebar Lowongan Kerja Palsu Biar Banyak yang Langganan

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
28 July 2026 08:20
FILE PHOTO: The logo for LinkedIn Corporation is shown in Mountain View, California, U.S. February 6, 2013.   REUTERS/Robert Galbraith//File Photo
Foto: LinkedIn (REUTERS/Robert Galbraith)

Jakarta, CNBC Indonesia - Platform pencarian kerja, LinkedIn, tengah diselidiki oleh otoritas Negara Bagian Texas, Amerika Serikat, atas dugaan menampilkan banyak lowongan kerja palsu atau ghost jobs.

Investigasi juga menyoroti dugaan bahwa praktik tersebut digunakan untuk mendorong pengguna berlangganan layanan Premium.

Jaksa Agung Texas Ken Paxton telah menerbitkan Civil Investigative Demand kepada LinkedIn, perusahaan milik Microsoft yang memiliki lebih dari 1 miliar pengguna.

Penyelidikan akan berfokus pada dugaan bahwa sebagian lowongan kerja yang ditampilkan di platform tersebut merupakan lowongan palsu atau bukan peluang kerja yang benar-benar tersedia.

Selain itu, otoritas Texas juga menyelidiki apakah LinkedIn melanggar Texas Deceptive Trade Practices Act atau undang-undang perlindungan konsumen di negara bagian tersebut, sebagaimana dilaporkan Chron.

Ghost job merupakan istilah untuk lowongan pekerjaan yang sebenarnya sudah tidak tersedia lagi atau posisi yang sejak awal memang tidak berniat diisi oleh perusahaan. Fox 7 Austin melaporkan sekitar sepertiga lowongan kerja di LinkedIn diperkirakan merupakan ghost jobs.

Penyelidikan juga mencakup dugaan bahwa LinkedIn tidak melakukan verifikasi yang memadai terhadap lowongan kerja yang dipasang.

Selain itu, perusahaan dinilai kurang transparan kepada pelanggan layanan Premium yang membayar biaya berlangganan antara US$39,99 hingga US$69,99 per bulan untuk memperoleh berbagai fitur tambahan, termasuk akses ke perekrut dan manajer perekrutan.

Menurut dokumen penyelidikan, berbagai tingkatan langganan Premium diduga menampilkan banyak lowongan yang kemungkinan sudah tidak aktif, tidak akan diisi, dan tidak mencerminkan peluang kerja yang benar-benar tersedia.

"Saya akan menggunakan setiap sumber daya yang tersedia di kantor saya untuk membantu warga Texas yang mencari pekerjaan menemukan dan mendapatkan peluang kerja yang nyata," kata Paxton dalam sebuah pernyataan.

"LinkedIn memiliki kewajiban untuk memberikan layanan sesuai yang mereka iklankan dan memastikan konsumen yang membayar langganan Premium benar-benar mendapatkan akses ke lowongan pekerjaan yang sah," lanjutnya.

Sebagai bagian dari investigasi, pejabat Texas meminta LinkedIn menyerahkan berbagai dokumen, data, serta komunikasi internal terkait praktik periklanan, pemasaran, proses verifikasi lowongan pekerjaan, hingga layanan langganan Premium.

Meski demikian, hingga saat ini belum ada tuduhan resmi bahwa LinkedIn melakukan pelanggaran hukum. Pemerintah Texas juga belum mengajukan gugatan terhadap perusahaan tersebut.

Menanggapi penyelidikan itu, juru bicara LinkedIn menegaskan tujuan perusahaan adalah membantu pencari kerja mendapatkan pekerjaan berikutnya.

"Tujuan LinkedIn adalah membantu para pencari kerja menemukan peran berikutnya, dan kebijakan kami mengharuskan setiap lowongan yang dipasang bersifat autentik dan ditampilkan secara akurat," kata juru bicara LinkedIn.

Juru bicara itu menambahkan, untuk banyak lowongan yang dipasang di LinkedIn, perusahaan juga menampilkan waktu respons perusahaan serta informasi apakah perusahaan masih meninjau kandidat. Menurutnya, fitur tersebut membantu pencari kerja mengetahui apakah lowongan tersebut masih aktif.

"Kami secara aktif menegakkan kebijakan kami dan terus berinvestasi dalam fitur-fitur baru seperti verifikasi untuk lowongan pekerjaan, perekrut, dan halaman perusahaan guna membantu anggota LinkedIn mengidentifikasi peluang kerja yang lebih tepercaya," ujarnya.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Konten Medsos Buatan AI Makin Merajalela, Faktanya Bikin Kaget


Most Popular
Features