Temuan Baru Bantah Teori Evolusi Manusia yang Sudah Lama Dipercaya

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Selasa, 21/07/2026 06:30 WIB
Foto: AFP/GULSHAN KHAN

Jakarta, CNBC Indonesia - Evolusi manusia ternyata tidak berjalan seperti yang selama ini diyakini. Studi terbaru terhadap fosil manusia purba membantah anggapan lama bahwa evolusi manusia berlangsung secara bertahap dan lurus, dari otak yang makin besar hingga wajah yang makin kecil.

Peneliti justru menemukan bahwa manusia purba dapat mengalami periode panjang tanpa perubahan berarti. Perubahan besar baru muncul ketika hambatan biologis, lingkungan, dan budaya mulai berkurang.

Penelitian yang terbit di jurnal Nature Communications ini dipimpin Mark Hubbe dari University of Tennessee-Knoxville dan Katerina Harvati dari Senckenberg Centre for Human Evolution and Palaeoenvironment (SHEP) di University of Tübingen.


Studi berjudul "Evolutionary drivers of encephalization and facial reduction in the genus Homo" itu menganalisis 87 fosil tengkorak dari berbagai spesies dalam genus Homo. Sampelnya mencakup Homo habilis, Homo erectus, Homo heidelbergensis, Neanderthal, hingga manusia modern Homo sapiens.

Fosil-fosil tersebut mencakup sebagian besar tengkorak hominin yang masih terpelihara dengan baik dari periode sekitar dua juta tahun terakhir.

Para peneliti kemudian menguji enam model evolusi. Model tersebut mencakup seleksi alam yang terus mendorong perubahan ke arah tertentu, perubahan acak atau netral, seleksi stabilisasi yang mempertahankan ciri dalam rentang tertentu, serta teori punctuated equilibrium yang menggambarkan periode panjang dengan sedikit perubahan sebelum diikuti perubahan evolusioner yang lebih cepat.

Hasilnya, teori bahwa seleksi alam secara konsisten mendorong manusia menuju otak yang lebih besar dan wajah yang lebih kecil mendapat dukungan terbatas.

Sebaliknya, perubahan acak, keterbatasan biologis, serta periode panjang tanpa perubahan justru lebih mampu menjelaskan evolusi genus Homo.

"Meskipun analisis kami mengkonfirmasi tren evolusi yang sudah dikenal mengenai pertumbuhan tengkorak dan pengurangan wajah, analisis tersebut menunjukkan bahwa perbedaan dalam genus kita dapat dijelaskan jauh lebih efektif oleh proses evolusi netral dan periode panjang stasis evolusi," jelas Hubbe, dikutip dari SciTechDaily, Senin (20/7/2026).

Para ilmuwan menduga, perkembangan teknologi dan budaya menjadi salah satu faktor penting yang memungkinkan perubahan fisik besar terjadi.

Penggunaan alat, pengolahan makanan, kerja sama, tempat berlindung, serta kemampuan memanfaatkan sumber daya baru dapat mengurangi tekanan terhadap tubuh untuk beradaptasi secara fisik.

Budaya juga membantu manusia memenuhi kebutuhan energi yang sangat besar untuk menopang otak yang lebih besar.

"Dalam banyak hal, budaya bertindak sebagai penyangga. Budaya memungkinkan kita untuk memanfaatkan habitat baru dan mengakses lebih banyak sumber daya. Hal ini mengurangi tekanan pada struktur fisik tertentu karena struktur tersebut tidak perlu terlalu ketat beradaptasi dengan kondisi lingkungan," jelasnya.

Dengan cara ini, periode inovasi teknologi dan budaya yang intensif dapat memicu perubahan evolusi yang cepat. Menurutnya, perubahan tersebut jelas sangat penting bagi evolusi genus Homo, karena memungkinkan nenek moyang kita untuk memenuhi kebutuhan nutrisi otak yang lebih besar dan untuk sepenuhnya memanfaatkan manfaat kemampuan kognitif yang lebih tinggi.

Temuan ini juga mengubah cara ilmuwan melihat asal-usul manusia modern. Manusia purba bukan sekadar tahapan yang secara perlahan bergerak menuju bentuk manusia saat ini.

Sebaliknya, evolusi manusia kemungkinan berlangsung melalui kombinasi periode panjang tanpa perubahan, perubahan acak, keterbatasan biologis, serta lompatan perubahan pada kondisi tertentu.

"Temuan kami menggeser fokus," kata Katerina Harvati.

"Daripada bertanya mengapa manusia terus berevolusi menuju otak yang lebih besar dan wajah yang lebih kecil, akan lebih masuk akal untuk menyelidiki dalam kondisi apa populasi manusia mampu melepaskan diri dari batasan yang ada dan mengembangkan sifat-sifat baru," tambahnya.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Ada Kesenjangan, Infrastruktur Internet RI Siap Hadapi Era AI?