Karyawan Muak Lihat Sikap Bos Besar, Sampai Patungan Rp 3,8 Miliar

Redaksi,  CNBC Indonesia
20 July 2026 12:55
Salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman. (X/@gdb)
Foto: Salah satu pendiri OpenAI, Greg Brockman. (X/@gdb)

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan internal di raksasa kecerdasan buatan (AI) OpenAI tampaknya sedang membara. Sejumlah karyawan korporasi pencipta ChatGPT tersebut dilaporkan rela merogoh kocek pribadi hingga mengumpulkan dana sebesar US$215.000 atau setara Rp3,8 miliar.

Langkah patungan ini dilakukan bukan tanpa sebab. Uang tersebut didonasikan ke sebuah komite aksi politik (super PAC) bernama 'Guardrails Alliance'. Misi utamanya cukup mengejutkan, yakni mendesak lahirnya regulasi yang jauh lebih ketat terhadap laboratorium-laboratorium AI unggulan, termasuk tempat mereka bekerja.

Langkah berani para karyawan ini jelas menabrak langsung arah kebijakan perusahaan. Saat ini, OpenAI tengah gila-gilaan mengembangkan AI super canggih di tengah tensi persaingan yang makin sengit. Tak hanya itu, selama ini para raksasa teknologi (Big Tech) dikenal memiliki sikap resisten terhadap wacana intervensi regulasi yang ketat dari pemerintah.

Gerakan Perlawanan Populis Silicon Valley

Melansir laporan Wired, Guardrails Alliance resmi meluncur bulan lalu dengan sokongan pendanaan awal sebesar US$ 5 juta (sekitar Rp 90 miliar). Aliansi ini memosisikan diri sebagai gerakan populis kelas pekerja yang disokong oleh para pekerja sektor teknologi, serikat pekerja, hingga berbagai kelompok masyarakat.

Tujuan aliansi ini terbilang ambisius, yakni menjadi batu sandungan sekaligus penyeimbang bagi 'Leading the Future'. Nama terakhir merupakan sebuah superPAC pro-industri

AI yang disokong dana jumbo lebih dari US$ 100 juta (Rp 1,8 triliun) dari para taipan teknologi. Ironisnya, salah satu pendana utama 'Leading the Future' adalah Greg Brockman, yang tak lain merupakan Presiden sekaligus co-founder dari OpenAI.

Berdasarkan data yang dihimpun, terdapat tujuh karyawan aktif OpenAI serta satu mantan karyawan yang tercatat menyetor dana ke Guardrails Alliance. Informasi ini bocor sebelum laporan kuartalan pertama diserahkan kepada Komisi Pemilihan Umum Federal AS (FEC).

Salah satu penyumbang terbesar dari internal OpenAI adalah Juan Felipe Cerón Uribe. Engineer riset yang telah bergabung di OpenAI sejak 2022 ini menyumbang secara fantastis sebesar US$ 200.000 (Rp 3,6 miliar).

Cerón Uribe blak-blakan mengaku khawatir jika riset mitigasi dampak AI yang ia kerjakan selama empat tahun terakhir akan berujung sia-sia tanpa adanya regulasi yang mengikat perusahaan swasta.

"Para miliarder teknologi, seperti Greg Brockman, mendanai super PAC bernama Leading the Future agar AI tetap tidak diatur oleh regulasi. Saya sangat senang mengetahui bahwa Guardrails Alliance berupaya melawan LTF. Keputusan saya untuk memberikan donasi kepada mereka sangatlah mudah," tegas Cerón Uribe.

Pecah Kongsi di Internal Raksasa AI

Secara angka, sumbangan karyawan OpenAI ini memang terbilang mini jika dibandingkan dengan target total Guardrails Alliance yang mengincar dana US$ 15 juta (Rp 270 miliar). Angka ini juga bak bumi dan langit dengan komitmen dana jumbo US$ 50 juta (Rp 902 miliar) yang digelontorkan oleh Brockman beserta istrinya, Anna, ke kubu pro-industri.

Namun, pengamat menilai nilai nominal bukan poin utamanya. Fenomena "patungan" ini menjadi sinyal kuat adanya riak-riak perpecahan dan ketegangan ideologis yang kian meruncing di internal OpenAI.

Sikap Brockman yang mendanai gerakan anti-regulasi telah memicu kegelisahan di kalangan internal pekerja bawah dan menengah. Para eksekutif bahkan sempat didesak untuk mengklarifikasi hubungan resmi perusahaan dengan super PAC tersebut.

Meski manajemen OpenAI berulang kali mencoba menjaga jarak secara diplomatis, aksi nyata karyawan yang nekat menggunakan uang pribadi untuk "berperang" melawan agenda sang bos besar membuktikan bahwa friksi di internal industri AI kini sudah memasuki babak baru.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Karyawan Rela Patungan Rp 3,8 Miliar Demi Melawan Bos Besar


Most Popular
Features