HP China Makin Tenggelam, Nasib Pedagang Miris Jualan Tidak Laku
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar telepon seluler pintar (smartphone) global tengah menghadapi cobaan berat pada kuartal-II (Q2) 2026. Pengiriman merosot tajam hingga 11% secara tahun-ke-tahun (year-on-year/YoY), menurut laporan firma riset Counterpoint. Kejatuhan ini mencetak rekor penurunan terdalam untuk periode kuartal kedua sejak tahun 2013 silam.
Salah satu faktor yang berkontribusi terhadap lesunya pengiriman HP global adalah krisis kelangkaan chip memori yang tersedot oleh lonjakan permintaan pusat data kecerdasan buatan (AI data center).
Nasib paling memprihatinkan dialami trio raksasa HP China: Xiaomi, Oppo, dan Vivo. Ketiganya kompak mencatatkan penurunan volume pengapalan hingga menyentuh dua digit (double-digit) jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.
Kiamat Segmen HP Murah
Penyebab utama ambruknya kinerja pabrikan HP China tidak lepas dari melonjaknya biaya komponen utama, terutama chip memori. Kenaikan harga produksi ini memicu volatilitas pasar yang luar biasa tinggi dan secara langsung memukul daya beli di segmen ponsel murah (entry-level) hingga kelas menengah (mid-range).
Mengingat basis kekuatan Xiaomi, Oppo, dan Vivo selama ini bertumpu pada segmen-segmen sensitif harga tersebut, dampaknya pun langsung terasa instan dan masif.
"Ketiga merek [China] ini terdampak secara signifikan karena konsumen memilih menunda pembelian, beralih ke perangkat generasi lama yang lebih terjangkau, atau memperpanjang siklus pemakaian HP mereka," tulis Counterpoint dalam laporan resminya.
Demi menahan kejatuhan lebih dalam, Xiaomi terpaksa memutar otak. Mereka menyederhanakan portofolio lini produknya serta melonggarkan ketentuan skema pembiayaan (kredit) bagi para pengecer agar volume penjualan di pasar tetap terjaga.
Strategi darurat ini berhasil menjaga posisi Xiaomi di peringkat ketiga dalam daftar 'Top 5' penguasa pasar global dengan raihan pangsa pasar (market share) sebesar 12%. Kendati demikian, angka tersebut sejatinya menyusut jika dibandingkan dengan kuartal II-2025 yang sempat menyentuh 14%.
Sisi positifnya, Xiaomi masih mencatat pertumbuhan di lini premium berkat performa Redmi Note 15, Redmi K90, dan seri flagship Xiaomi 17.
Sementara itu, Oppo dan Vivo harus puas mengekor di posisi keempat dan kelima. Oppo menguasai 11% pangsa pasar di tengah kelesuan pasar-pasar utamanya akibat daya beli yang membeku. Di sisi lain, Vivo meraih 8% pangsa pasar setelah dihantam kendala pasokan komponen. Kenaikan harga jual pada model-model andalan Vivo membuat produk mereka keluar dari kisaran harga krusial yang selama ini diminati konsumen.
Badai Sempurna: Inflasi, Geopolitik, dan Kelangkaan Chip
Senior Analyst Counterpoint, Shilpi Jain, mengungkapkan bahwa runtuhnya pasar smartphone kali ini dipicu oleh kombinasi sentimen buruk multipihak atau perfect storm. Selain krisis memori akibat demam AI, ketegangan geopolitik yang terus membara di kawasan Timur Tengah turut memperkeruh suasana. Konflik tersebut mengerek biaya logistik, pengapalan, serta harga minyak mentah, yang pada akhirnya mengerek tingkat inflasi harga jual gawai ke tangan konsumen.
Kondisi eksternal kian diperparah oleh perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan tingkat kepercayaan konsumen (consumer sentiment) yang kini berada di titik terendah dalam sejarah ekosistem digital.
Menyikapi hal ini, para produsen HP terbelah dalam mengambil kebijakan. Sebagian nekat menaikkan harga jual demi mengamankan margin keuntungan, sementara sebagian lainnya memilih menunda peluncuran model baru sembari jor-joran menggelar promo diskon untuk menghabiskan stok perangkat generasi lama.
Counterpoint memproyeksikan sisa tahun 2026 akan berjalan sangat menantang, dengan estimasi penurunan total pengapalan tahunan mencapai 14%. Terlebih lagi, kelangkaan pasokan memori global diprediksi baru akan menemui titik terang pada tahun 2027.
Samsung dan Apple Makin Perkasa
Di saat pabrikan China tiarap, dua penguasa pasar abadi, Samsung dan Apple, justru semakin kokoh di puncak dan sukses memperlebar jarak dari para pesaingnya.
Samsung kokoh mempertahankan mahkota sebagai 'Raja HP Sedunia'. Pabrikan asal Korea Selatan ini sukses memperluas pangsa pasarnya menjadi 24% di Q2 2026, melesat dari angka 20% pada periode yang sama tahun lalu.
Pasar India dan Timur Tengah menjadi ladang cuan terbesar Samsung berkat penetapan harga yang stabil serta promosi agresif. Kesuksesan ini juga disokong kuat oleh melonjaknya permintaan seri premium Galaxy S26, khususnya varian Ultra yang diburu berkat fitur AI terbarunya.
Menyusul di posisi kedua, Apple mengamankan pangsa pasar sebesar 20%, naik dari 17% di Q2 2025. Tren pertumbuhan tahunan Apple ditopang oleh performa apik lini iPhone 17 yang menjadi model dengan volume pengiriman tertinggi di dunia.
Meski pasar China dilaporkan melesu bagi Apple akibat persaingan festival belanja lokal '618' yang kurang bergairah, portofolio ekosistem premium serta prioritas pasokan komponen ke perangkat generasi terbaru berhasil membuat Apple lolos dari jerat krisis yang menimpa rival-rivalnya dari negeri Tirai Bambu.
(fab/fab) Add
source on Google