Ilmuwan Hitung Sisa Umur Kehidupan di Bumi

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Kamis, 16/07/2026 20:20 WIB
Foto: Pemandangan Bumi yang diambil oleh astronot NASA dan komandan Artemis II, Reid Wiseman, dari salah satu dari empat jendela utama pesawat ruang angkasa Orion. (NASA/Handout via REUTERS)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah studi berusaha meramalkan akhir kehidupan di Bumi. Ada banyak versi dari temuan studi tersebut.

Beberapa ilmuwan berpendapat lima tahun lagi Bumi akan ditelan Matahari yang telah berubah menjadi raksasa merah. Ini akan mengakhiri keberadaan kehidupan yang berlangsung di dalamnya.

Namun pendapat lain muncul karena lumonitas Matahari yang terus meningkat. Masa kehidupan di Bumi akan berakhir jauh lebih cepat.


Sebuah studi mengungkapkan kehidupan tumbuhan akan bertahan lebih dari 1,8 miliar tahun lagi. Jauh sebelum Matahari berubah bentuknya.

"Rentang hidup maksimum biosfer Bumi terbatas karena peningkatan kecerahan Matahari seiring berjalannya waktu," kata penulis studi dalam jurnal JGR Atmospheres, dikutip dari laman Yahoo, Kamis (16/7/2026).

"Siklus karbon jangka panjang Bumi merespon dengan menarik karbondioksida dari atmosfer, memasukkannya dalam batuan karbonat, membuatnya mengurangi efek rumah kaca dan mengimbangi peningkatan sinar Matahari".

Studi ini juga mencatat penelitian sebelumnya yang mengatakan penurunan karbon dioksida di atmosfer bakal mematikan organisme berukuran makro. Termasuk, adalah tumbuhan yang hidup dari karbon dioksida dari fotosintesis.

Akhir kehidupan tumbuhan karena dampaknya pada gangguan siklus karbonat-silikat Bumi diperkirakan dalam 100 juta tahun. Kemudian angka itu meningkat 1,5 miliar, karena adanya perbedaan jenis proses fotosintesis oleh tumbuhan.

Tim dalam studi terbaru membuat 29 model iklim untuk menjalankan skenario biosfer Bumi di masa depan. Yakni membuat Bumi terlalu panas untuk kehidupan, saat Co2 tidak berubah dan Co2 yang tidak cukup untuk mendukung kehidupan dengan suhu tetap stabil.

Saat Co2 tidak berubah, maka tumbuhan dengan fotosintesis CAM atau metabolisme asama krasulasea bisa bertahap hingga 1,87 miliar tahun. Pada model kedua, akhir kehidupan berkisar 1,35 miliar tahun lagi.

Para peneliti memberikan catatan jika yang mereka lakukan adalah menilai berdasarkan kinerja fotosintesis saat ini. Namun bukan pada kemungkinan adanya evolusi fotosintesis di masa depan.

"Kami akui hasil studi ini harus diperiksa dengan model 3D lain, dan upaya bersama yang membandingkan hasil model insolasi tinggi dan rendah bisa membatasi skala waktu," jelas para peneliti.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Riset Pasar Pakai AI, Bantu Bisnis Memenangkan "Hati'" Konsumen