Jualan HP Hancur-hancuran di 2026, Cuma Merek Ini yang Masih Laku
Jakarta, CNBC Indonesia - Industri HP makin terperosok di kuartal-II (Q2) 2026, menunjukkan tekanan yang kian besar dari krisis chip memori global. Krisis yang sudah dimulai sejak akhir 2025 tersebut memicu kenaikan harga komponen gila-gilaan, sehingga memaksa pabrikan HP menyesuaikan harga atau spesifikasi yang ditawarkan ke konsumen.
Krisis chip memori global ini disebabkan 'ledakan' AI yang memicu lonjakan permintaan chip untuk infrastruktur data center AI, sehingga berdampak pada produksi chip konvensional untuk perangkat elektronik konsumen, termasuk HP.
Sepanjang Q2 2026, firma riset Counterpoint mencatat penurunan pengiriman HP global sebesar 11% secara tahun-ke-tahun (YoY). Penurunan tersebut menandai pertumbuhan paling lesu di Q2 sejak 2013.
Senior Analyst Counterpoint, Shilpi Jain, mengatakan krisis chip memori global kini telah melampaui faktor-faktor lain sebagai hambatan terbesar bagi industriHP. Masalah yang awalnya hanya terkait komponen pada tahun lalu kini, telah berkembang menjadi masalah permintaan yang serius.
"HP murah (entry-level) dan menengah (mid-range) yang mencakup sebagian besar volume ponsel dunia dan paling terdampak oleh struktur biaya komponen (BOM), menjadi tidak layak [dengan kenaikan harga yang terjadi]," Jain menuturkan.
Menurut temuan Counterpoint, para pabrikan HP merespons fenomena kenaikan harga komponen imbas krisis chip memori ini dengan berbagai cara. Ada yang menaikkan harga dan menerima tekanan pada margin keuntungan, ada pula yang memperpanjang siklus hidup model generasi lama serta menggunakan promosi untuk mempertahankan pembeli yang mengutamakan harga murah.
"Selain itu, ada pula yang sekadar menunda peluncuran serta mengurangi produksi. Selain kelangkaan chip memori, ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mendongkrak biaya minyak dan pengiriman, yang makin menaikkan harga ponsel," Jain menjelaskan.
"Kondisi ini terjadi bersamaan dengan tekanan makroekonomi yang lebih luas, perlambatan pertumbuhan global, inflasi yang lebih tinggi, serta sentimen konsumen yang berada di titik terendah dalam sejarah, yang dampaknya paling berat dirasakan oleh pembeli yang sangat mempertimbangkan harga," ia menuturkan.
Kendati industri HP global mengalami penurunan tajam, tetapi Samsung masih bisa mempertahankan posisinya di peringkat pertama di jejeran 'Top 5' HP dengan pangsa pasar terbesar. Bahkan, pangsa pasar Samsung meningkat dari sebelumnya 20% menjadi 24% YoY pada Q2 2026.
Selain itu, Apple yang berada di posisi kedua juga berhasil mencatat pertumbuhan pangsa pasar di Q2 2026, dari 17% menjadi 20%.
Adapun pabrikan-pabrikan China kawakan yang mendudukin posisi keempat hingga kelima, kompak mencatat penurunan. Xiaomi di peringkat ketiga mengalami pengurangan pengiriman, dengan pangsa pasar 12% dari sebelumnya 14%.
Kemudian Oppo juga mengalami penurunan, dari 12% menjadi 11%. Terakhir, vivo turut mengalami pelemahan pangsa pasar dari 9% menjadi 8%.
"Xiaomi, Oppo, dan vivo masing-masing mencatat penurunan pengiriman dua digit secara tahunan pada Q2 2026 akibat meningkatnya volatilitas pasar yang dipicu oleh kenaikan biaya memori," tulis laporan Counterpoint, dikutip dari laman resminya, Selasa (14/7/2026).
(fab/fab) Add
source on Google