Gelar Sarjana Tak Berguna, Melamar Kerja Tak Perlu Ijazah S1 di Korea
Jakarta, CNBC Indonesia - Gelar sarjana atau pendidikan S1 sudah menjadi syarat umum untuk melamar pekerjaan di posisi tertentu di perusahaan. Namun, raksasa chip asal Korea Selatan (Korsel), SK hynix, menghapus persyaratan kualifikasi akademik dalam proses rekrutmen karyawan.
Mulai proses perekrutan terbaru yang dibuka Juni lalu, perusahaan tidak lagi mewajibkan pelamar memiliki gelar sarjana S1.
Produsen memori berkecepatan tinggi atau high bandwidth memory (HBM) yang menjadi pemasok utama chip untuk akselerator kecerdasan buatan (AI) Nvidia itu menyatakan akan menilai kandidat berdasarkan kemampuan kerja dan potensi berkembang, bukan berdasarkan gelar pendidikan.
SK hynix menghapus kalimat 'terbuka bagi pelamar dengan gelar sarjana empat tahun atau lebih tinggi' dari seluruh lowongan pekerjaan. Dengan kebijakan baru ini, siapa pun dapat melamar dan direkrut selama memiliki pengalaman, kompetensi, dan kecocokan dengan budaya perusahaan.
Perusahaan juga memastikan kebijakan tersebut akan diterapkan pada seluruh proses perekrutan di masa mendatang.
Dalam langkah yang terbilang tidak biasa untuk perekrutan di luar jadwal reguler, SK hynix membuka rekrutmen ratusan karyawan untuk berbagai posisi inti, termasuk pengembangan desain chip generasi berikutnya. Perusahaan membuka penerimaan dokumen lamaran hingga 23 Juni.
Perubahan kebijakan tersebut sejalan dengan visi Chairman SK Group, Chey Tae-won, mengenai kualitas sumber daya manusia yang dibutuhkan di masa depan. Ia menggambarkan kemampuan pekerja masa depan sebagai tiga jenis 'otot', yakni kemampuan berpikir kritis untuk mempertanyakan dan memahami hal-hal mendasar, kemampuan beradaptasi menghadapi perubahan teknologi yang cepat, serta kemampuan berempati untuk bekerja sama secara fleksibel di tengah berbagai perbedaan.
"Dalam lingkungan AI yang berubah sangat cepat, daya saing talenta masa depan sulit diukur hanya melalui gelar tertentu atau kredensial yang terstandarisasi," kata seorang pejabat SK hynix, dikutip dari Korea Herald, Senin (13/7/2026).
Kebijakan ini dinilai memiliki dampak lebih luas dibanding sekadar perubahan sistem rekrutmen perusahaan. Pasalnya, Korea Selatan dikenal sebagai negara yang sangat menekankan pentingnya latar belakang pendidikan formal.
Berdasarkan data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD), sebanyak 71% penduduk Korea Selatan berusia 25-34 tahun telah menyelesaikan pendidikan tinggi, menjadi yang tertinggi di antara negara-negara anggota OECD. Organisasi tersebut juga mencatat tingginya tingkat pengangguran usia muda di Korsel berkaitan dengan ketidaksesuaian antara sistem pendidikan dan kebutuhan pasar tenaga kerja.
Perubahan aturan rekrutmen SK hynix juga muncul di tengah tingginya kebutuhan tenaga kerja perusahaan. Tahun lalu, SK hynix merekrut lebih dari 2.000 karyawan baru meski pasar tenaga kerja secara umum melambat.
Pada 2025, SK hynix juga menempati posisi pertama dalam survei perusahaan impian mahasiswa di Korea Selatan untuk pertama kalinya. Para responden menyebut besarnya kompensasi sebagai salah satu alasan utama memilih perusahaan tersebut.
Daya tarik SK hynix semakin meningkat setelah perusahaan membagikan bonus kinerja tertinggi dalam sejarahnya menyusul pencapaian laba rekor pada 2025. Besaran bonus mencapai 2.964% dari gaji pokok bulanan.
Artinya, karyawan dengan gaji tahunan sekitar 100 juta won berpotensi menerima bonus sekitar 148 juta won atau sekitar Rp 1,7 miliar. Ini menjadikan SK hynix sebagai salah satu tempat kerja paling diminati di industri semikonduktor global.
(fab/fab) Add
source on Google