Ramai-Ramai Tinggalkan Amerika Pindah ke China, Terungkap Alasannya

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 16:10 WIB
Foto: Presiden China Xi Jinping memperlihatkan suasana kompleks bersejarah Zhongnanhai kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump usai pembicaraan mengenai perdagangan, Taiwan, dan Iran, Jumat (15/5/2026). (REUTERS/Evan Vucci/Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah perusahaan mulai melirik model kecerdasan buatan (AI) asal China sebagai alternatif pengganti layanan dari perusahaan Amerika Serikat (AS). Penyebab utamanya adalah biaya penggunaan AI yang dinilai masih terlalu mahal, sehingga membebani anggaran perusahaan.

CEO Palo Alto Networks, Nikesh Arora, mengatakan biaya token AI harus turun agar teknologi tersebut bisa diadopsi secara luas oleh dunia usaha.


Pernyataan itu disampaikan setelah CEO OpenAI Sam Altman mengungkapkan model AI terbaru perusahaannya telah 54% lebih efisien dalam penggunaan token untuk kebutuhan agentic coding.

"Saya pikir 54% adalah awal yang baik. Saya rasa kita masih membutuhkan satu lompatan lagi," kata Arora, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (10/7/2026).

Menurut Arora, efisiensi token perlu terus ditingkatkan. Ia menilai biaya token harus turun hingga sekitar 20% dalam 12 bulan ke depan, hingga akhirnya bisa turun 90% pada tahun berikutnya.

"Kita perlu melihat harga AI turun," tegasnya.

Biaya token yang terus meningkat kini menjadi salah satu persoalan terbesar bagi perusahaan yang ingin mengadopsi AI. Kondisi tersebut membuat anggaran AI membengkak dan implementasi teknologi menjadi semakin sulit dilakukan oleh banyak perusahaan.

Arora bukan satu-satunya eksekutif yang menyuarakan kekhawatiran tersebut. Semakin banyak petinggi perusahaan teknologi yang mendorong penurunan harga token karena dinilai menjadi hambatan utama bagi adopsi AI secara massal.

Pekan lalu, CEO Palantir Alex Karp juga mengkritik model bisnis berbasis token yang digunakan Anthropic dan OpenAI. Menurutnya, model AI dengan bobot terbuka (open-weight models) dapat menjadi salah satu solusi.

"Saya tidak sedang menyindir mereka, tetapi ada sesuatu yang benar-benar salah. Pandangan dasar perusahaan-perusahaan di negara ini adalah saya hanya akan santai dan membuang waktu dengan token," kata Karp.

Tingginya biaya token membuat semakin banyak perusahaan beralih menggunakan model AI berbobot terbuka yang lebih murah, termasuk model buatan China yang disebut semakin cepat mengejar ketertinggalan dari laboratorium AI asal Amerika Serikat.

Di sisi lain, belanja AI global juga terus melonjak untuk mendukung pembangunan infrastruktur dalam skala besar. Sejumlah raksasa teknologi bahkan mulai mencari sumber pendanaan baru untuk membiayai investasi tersebut.

SpaceX, misalnya, berhasil menghimpun dana sebesar US$25 miliar melalui penerbitan obligasi bulan lalu. Sementara itu, Amazon juga memperoleh pendanaan utang senilai US$25 miliar pada pekan ini untuk menopang ekspansi investasinya.

Arora menilai pasar pada akhirnya akan mampu menyesuaikan diri dengan besarnya belanja AI. Menurutnya, anggaran AI juga akan menurun seiring teknologi menjadi semakin efisien.

"Yang penting dipahami adalah permintaan terus tidak terbatas. Selama kurva permintaan yang tak terbatas, saya rasa semua ini pada akhirnya akan menemukan keseimbangannya," jelasnya.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Jurus Komdigi Dorong Kemandirian Teknologi & Jamin Keamanan Data