Lelet Masuk 5G, Ini Alasan RI Harus Mulai Pindah ke 6G

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Jumat, 10/07/2026 07:40 WIB
Foto: 6G (Foto: Beedini)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masuknya Indonesia ke era 5G bisa dibilang sangat terlambat dibandingkan negara lain. Ketua Umum Mastel, Sarwoto Atmosutarno menginginkan agar hal itu tidak terulang lagi saat penyelenggaraan 6G.

Mastel sendiri menyelenggarakan Seminar & Workshop bertemakan Nilai Strategis Nasional TIK dari Alokasi Spektrum Upper 6GHz untuk Mobile Broadband 5G-Advanced dan 6G di Indonesia. Sarwoto menjelaskan inisiasi tersebut dilakukan agar tidak lagi menundanya seperti 5G.

"Kita kan suka lelet tuh. Makanya kita mesti kerjain sekarang gitu. Karena kalau kita tidak terencana dengan baik, tahu-tahu didadadak oleh international environment yang mereka sudah siap," kata Sarwoto, Kamis (9/7/2026).


Dia menjelaskan 5G sendiri sudah masuk laboratorium sejak 2012 dan pertama kali diimplementasikan sekitar 2017 di dunia. Sebagai informasi, Indonesia pertama kali diluncurkan pada 2021 oleh Telkomsel.

Penetrasi 5G di negara lain juga telah mencapai di atas 70%, sedangkan Indonesia belum sampai 10%.

Sarwoto juga mengatakan tidak masalah untuk langsung lompat ke 6G. Asalkan bergantung pada pemanfaatan kegiatan ekonomi dan non-ekonomi yang bisa didapatkan.

"Kan tergantung dari Anda kan sebagai pengguna. Kalau misalkan saya lebih senang 6G untuk pemanfaatan kegiatan keekonomian maupun non-ekonomi Anda, market akan menjawab tuh," ungkapnya.

Terkait alasan mengapa penetrasi 5G masih rendah, dia mengatakan sebagai operator seluler akan memikirkan pemanfaatan ekonomi yang ada. Ini terkait jumlah device 5G yang sudah aktif.

"Nah kalau saya harus berinvestasi BTS mengganti seluruh BTS 4G menjadi 5G sedangkan enabler-nya cuman di bawah 20%, itu yang jadi maksudnya economic wise-nya itu belum masuk," jelas Sarwoto.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Tantangan RI Perkuat Ekonomi Digital Lewat Industri Game, e-Sport & Sp