Komdigi Ungkap Tantangan Luncurkan Internet 6G di Indonesia

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Kamis, 09/07/2026 18:15 WIB
Foto: Infografis/ Survey Pemilu/ Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Untuk memasuki era 6G, Indonesia masih memiliki satu tantangan besar, yakni spektrum jaringan yang masih kurang.

Direktur Penataan Spektrum Frekuensi Radio, Orbit Satelit, dan Standardisasi Infrastruktur Digital Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Adis Alifiawan menjelaskan jaringan 6G membutuhkan spektrum berkapasitas 200 MHz. 

Sementara itu, saat ini belum ada satu pita frekuensi yang bisa memenuhi itu. Baru-baru ini, pemerintah melakukan lelang frekuensi 700 Mhz (kapasitas 70 Mhz) dan 2,6 GHz (kapasitas 190 Mhz).


"Paling besar itu adalah yang kita lelang sekarang di 2,6 GHz, 190 MHz. Enggak sampai 200 MHz. Jadi kalau buat 6G, enggak sampai buat satu operator," kata Adis, dalam Seminar dan Workshop Mastel, di Jakarta, Kamis (9/7/2026).

Dia mengatakan jaringan 6G butuh ruang yang lebih besar. Untuk itu kapasitasnya juga perlu mengikutinya.

"Kalau membandingkan 6G itu sama 2G, kalau 2G itu kayak motor, 3G kayak bajaj, terus 4G itu kayak LCGC, 5G itu kayak SUV, begitu 6G kita butuhnya hammer. Jadi kita kalau mau punya mobil yang besar, garasinya mesti besar," jelasnya.

"Kalau kita mau memasukkan trafi 6G, kita harus punya spektrum itu sebagai garasinya ya mesti besar juga," dia menambahkan.

Untuk itu, perlunya merilis frekuensi baru. Peluncuran yang paling ideal, dia mengatakan adalah untuk mid-band. Menurutnya, tidak mungkin untuk mengeluarkan frekuensi low-band, karena bandwidth-nya kecil dan jangkauannya pendek.

Sementara itu, jaringan mid-band untuk 6G memiliki beberapa dampak. Salah satunya adalah perkembangan untuk AI. "Kalau kita ingin AI terus berkembang penggunaannya, ya kita butuh 6G," ucapnya.

"Selain itu, andaikan pun tidak menggunakan use case baru dalam hal ini AI, use case existing aja, itu juga kan dengan growingnya pertumbuhan use case yang lain, growing-nya demand dari use case yang lain, itu akan memunculkan kebutuhan mobile connectivity. Bagi masyarakat itu, at some point mereka akan mengalami stuck. Dan butuh tambahan kapasitas," jelas Adis.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Intip Potensi Tokenisasi Aset Jadi Investasi Digital Masa Depan