Ahli Kaget Tahu Manusia Flores Makan Apa, Hubungan dengan Jawa Putus

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 10:30 WIB
Foto: Wisatawan berkunjung di Taman Nasional Komodo, Pulau Komodo, Nusa Tenggara Timur, Minggu (24/7/2022). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Penelitian terbaru mengungkap fakta mengenai 'manusia Flores' Homo floresiensis, spesies manusia purba bertubuh kecil yang dijuluki manusia hobbit dari Pulau Flores, Indonesia. Temuan ini menunjukkan bahwa manusia hobbit kemungkinan bukan pemburu hewan besar seperti yang selama ini diyakini, melainkan memanfaatkan sisa-sisa mangsa yang lebih dulu disantap komodo.

Hasil riset yang dipublikasikan di jurnal Science Advances menantang anggapan lama bahwa Homo floresiensis memiliki perilaku berburu yang cukup maju.

Homo floresiensis pertama kali ditemukan pada 2003 di Gua Liang Bua, Flores. Spesies yang telah punah ini dijuluki "hobbit" karena ukuran tubuhnya yang sangat kecil, dengan tinggi rata-rata sekitar 106 sentimeter. Selain bertubuh mungil, mereka juga memiliki otak berukuran kecil, gigi besar, dan telapak kaki yang lebar.


Sebelumnya, para arkeolog menemukan berbagai alat batu, tulang hewan dengan bekas sayatan, serta tulang yang tampak hangus. Bukti-bukti tersebut selama ini dianggap menunjukkan perilaku yang relatif kompleks seperti manusia dari genus Homo lainnya. Homo floresiensis diperkirakan hidup di Flores sejak sedikitnya 700.000 tahun lalu sebelum akhirnya punah sekitar 50.000 tahun lalu, bertepatan dengan penyebaran Homo sapiens di Asia Tenggara.

Namun, penelitian terbaru mempertanyakan seberapa maju sebenarnya perilaku manusia hobbit tersebut.

Tim peneliti internasional menganalisis fosil Stegodon florensis insularis, spesies gajah kerdil yang telah punah dan ditemukan di Gua Liang Bua, lokasi yang sama dengan penemuan fosil Homo floresiensis dan berbagai alat batu.

Tujuan penelitian adalah mengetahui apakah bekas sayatan pada tulang stegodon berasal dari aktivitas berburu manusia hobbit atau justru dari aktivitas mengambil sisa daging setelah komodo lebih dulu memangsa hewan tersebut.

Untuk membedakan bekas sayatan alat batu dengan bekas gigitan komodo, para peneliti lebih dahulu melakukan eksperimen menggunakan seekor komodo yang dipelihara di Zoo Atlanta. Mereka memberikan bangkai kambing sebagai makanan komodo, kemudian mengumpulkan kembali kerangka kambing tersebut dan mendokumentasikan secara terperinci seluruh bekas gigitan, lubang, goresan, serta alur yang ditinggalkan gigi komodo.

Hasil percobaan menunjukkan bahwa bekas gigitan komodo terkonsentrasi pada bagian tubuh yang memiliki daging paling banyak. Hal itu mengindikasikan bahwa predator tersebut lebih memilih bagian tubuh yang kaya daging.

Setelah itu, para peneliti membandingkan pola tersebut dengan fosil stegodon dari Liang Bua. Mereka menemukan 54 bekas sayatan yang diduga dibuat menggunakan alat batu Homo floresiensis serta hampir dua kali lebih banyak bekas gigitan komodo.

Yang paling menarik, bekas gigitan komodo terkonsentrasi pada bagian tubuh yang banyak mengandung daging. Sebaliknya, bekas sayatan manusia hobbit justru ditemukan pada bagian tulang yang relatif sedikit dagingnya.

Pola tersebut menunjukkan bahwa komodo kemungkinan memperoleh akses pertama terhadap bangkai stegodon, sedangkan Homo floresiensis datang belakangan untuk mengambil sisa-sisa yang masih bisa dimakan.

Para peneliti menulis bahwa pola keseluruhan bekas sayatan dan bekas gigitan menunjukkan adanya kombinasi akses utama oleh komodo dan akses sekunder oleh H. floresiensis, di mana kedua predator sama-sama mengonsumsi stegodon, demikian dikutip dari Live Science, Senin (6/7/2026).

Penelitian itu juga menyebut manusia hobbit kemungkinan memakan daging tersebut dalam keadaan mentah. Alasannya, para peneliti tidak menemukan bukti bahwa tulang stegodon pernah dimasak.

Selain itu, mereka juga tidak menemukan bekas pembakaran pada lebih dari 4.000 tulang tikus yang ditemukan di lokasi tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa bukti hangus yang sebelumnya diduga berasal dari aktivitas memasak sebenarnya hanyalah noda mangan alami.

Menurut tim peneliti, minimnya bukti kemampuan berburu maupun penggunaan api menunjukkan Homo floresiensis mungkin tidak memiliki perilaku yang sekompleks dugaan sebelumnya. Temuan itu sekaligus memunculkan pertanyaan baru mengenai asal-usul evolusi spesies tersebut.

Penulis utama studi, paleoantropolog dari University of Tübingen, E. Grace Veatch, mengatakan kemungkinan nenek moyang Homo floresiensis bercabang dari genus Homo sebelum manusia menguasai teknologi berburu dan pengendalian api.

"Ada kemungkinan nenek moyang H. floresiensis bercabang dari genus Homo sebelum manusia berhasil mengendalikan api dan berburu," kata Veatch.

Selama ini terdapat dua hipotesis utama mengenai asal-usul manusia hobbit. Hipotesis pertama menyebut mereka merupakan hasil island dwarfism, yakni proses evolusi yang membuat ukuran tubuh spesies besar mengecil akibat terbatasnya sumber daya di pulau.

Sementara teori lain menyatakan Homo floresiensis berasal dari spesies Homo yang memang sejak awal telah bertubuh kecil.

"Saya pikir studi kami menyoroti pentingnya mempertimbangkan perilaku dalam perdebatan ini. Studi kami menunjukkan bahwa H. floresiensis berevolusi dari populasi hominin yang tidak memerlukan strategi memperoleh makanan seperti berburu dan memasak, misalnya bentuk Homo awal," ujar Veatch.

Meski demikian, penelitian ini belum sepenuhnya mengakhiri perdebatan mengenai asal-usul Homo floresiensis. Para ilmuwan menilai informasi mengenai perilaku hominin awal di Asia Tenggara, termasuk Homo erectus di Jawa dan kawasan Sunda, masih sangat terbatas.

Arkeolog Adam Brumm dari Griffith University yang tidak terlibat dalam penelitian mengatakan apabila Homo floresiensis benar-benar berevolusi dari Homo erectus, perubahan evolusi yang terjadi sangat besar.

"Berlangsung di sebuah pulau yang terputus dari daratan Sunda, evolusi dari Homo erectus menjadi Homo floresiensis mungkin tidak hanya melibatkan transformasi anatomi yang sangat besar, seperti penyusutan ukuran tubuh dan volume otak, tetapi juga adaptasi perilaku," kata Brumm.

"Flores jelas merupakan wildcard dalam kisah evolusi manusia awal, tempat hampir segala sesuatu mungkin terjadi, termasuk kemungkinan hilangnya perilaku hominin yang telah mengakar, seperti berburu dan penggunaan api," imbuhnya.

Sementara itu, Veatch menegaskan posisi Homo floresiensis dalam pohon evolusi manusia masih menjadi pertanyaan terbuka.

"Yang terpenting, studi ini menyoroti kontribusi tafonomi [ilmu yang mempelajari apa yang terjadi pada sisa-sisa organisme setelah kematian] dalam membantu menjawab pertanyaan besar mengenai asal-usul nenek moyang manusia," tutupnya.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas