Kiamat HP Makin Dekat, Bos Instagram-WhatsApp Ungkap Penggantinya

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Selasa, 07/07/2026 07:50 WIB
Foto: REUTERS/Carlos Barria

Jakarta, CNBC Indonesia - HP yang kini banyak digunakan orang, sepertinya akan segera tersingkir oleh perangkat baru yang disebut menjadi masa depan teknologi.

Hal tersebut diungkap oleh CEO Mark Zuckerberg. Dia menunjukkan keyakinannya bahwa perangkat wearable, khususnya kacamata pintar, akan menjadi masa depan teknologi. Bahkan, pendiri Meta tersebut mengaku hampir selalu mengenakan kacamata pintar buatan perusahaannya ke mana pun ia pergi.

Dalam wawancara dengan Complex, Zuckerberg mengungkapkan bahwa ia bahkan pernah menerima panggilan bisnis saat sedang mengendarai jet ski.


"Saya pernah menerima panggilan bisnis saat mengendarai jet ski. Orang di seberang telepon sama sekali tidak menyadari bahwa saya sedang berada di atas jet ski," ujarnya, dikutip dari Fortune, Senin (6/7/2026).

Zuckerberg mengatakan kualitas audio tersebut didukung oleh penempatan mikrofon pada bantalan hidung (nose pad) kacamata pintar Meta. Menurutnya, posisi mikrofon tersebut mampu menghasilkan suara yang sangat jernih.

Ia bahkan mengklaim kualitas audionya begitu baik sehingga seseorang tetap dapat terdengar jelas meski berada di lingkungan dengan angin yang sangat kencang.

"Anda benar-benar bisa berada di terowongan angin dan suara Anda tetap terdengar sangat jelas oleh orang di seberang," katanya.

Kemampuan tersebut, lanjut Zuckerberg, membuat aktivitas bekerja dari mana saja menjadi jauh lebih mudah.

"Kadang-kadang Anda tidak ingin lawan bicara bahwa Anda tahu Anda sedang di atas jet ski," tambahnya.

Orang terkaya ketujuh di dunia itu kini menjadi salah satu pendukung terbesar penggunaan kacamata pintar. Meta menjual berbagai lini kacamata berbasis kecerdasan buatan (AI) yang dikembangkan bersama merek Ray-Ban dan perusahaan induk Ray-Ban serta Oakley, yakni EssilorLuxottica.

Produk tersebut mulai dari Ray-Ban Meta (Gen 2) yang dibanderol US$379 hingga Meta Ray-Ban Display seharga US$799. Produk terakhir menjadi kacamata konsumen pertama Meta yang telah dilengkapi layar bawaan. Zuckerberg memperkenalkan Ray-Ban Display dalam konferensi Meta Connect pada September lalu.

Mark Zuckerberg menunjukkan display di kaca meta Meta Ray-Ban yang dikenakannya. (Tangkapan Layar Youtube) Foto: Mark Zuckerberg menunjukkan display di kaca meta Meta Ray-Ban yang dikenakannya. (Tangkapan Layar Youtube)

Model Display juga dibekali perangkat Neural Band, yakni gelang pintar yang membaca sinyal listrik pada lengan bawah sehingga pengguna dapat mengoperasikan tampilan heads-up display melalui gerakan jari yang sangat halus.

Selain itu, kacamata tersebut memiliki layar di sisi kanan yang mampu menampilkan pesan teks, notifikasi, aplikasi, foto, hingga menyediakan fitur terjemahan langsung.

Yakin Masa Depan

Zuckerberg mengatakan keyakinannya terhadap pasar wearable berangkat dari asumsi sederhana. Menurutnya, hampir 2 miliar orang di dunia telah menggunakan kacamata untuk membantu penglihatan sehingga menjadi pasar potensial bagi perangkat tersebut.

Ia juga membandingkan perkembangan kacamata pintar dengan transformasi ponsel lipat menuju smartphone.

"Rasanya sudah sangat jelas bahwa dalam lima tahun atau lebih, semua ponsel lipat akan berubah menjadi smartphone. Itulah yang saya rasakan terhadap kacamata saat ini," ujarnya.

CEO of Snap, Evan Speigel. (Dok. CNBC Internasional) Foto: CEO of Snap, Evan Speigel. (Dok. CNBC Internasional)

Menurut Zuckerberg, kacamata pintar memungkinkan seseorang tetap hadir bersama orang-orang di sekitarnya, sesuatu yang dinilainya sulit dilakukan ketika terus-menerus melihat layar ponsel.

Di saat yang sama, perangkat tersebut juga memungkinkan asisten AI untuk "melihat apa yang Anda lihat, mendengar apa yang Anda dengar, dan berbicara dengan Anda sepanjang hari."

Zuckerberg mengatakan Meta telah mengembangkan teknologi pendukung perangkat tersebut sejak 2014, dimulai dari riset virtual reality (VR) dan augmented reality (AR). Bahkan, perusahaan sudah mulai menyiapkan lini produk kacamata pintar untuk 2028.

Ia menyebut proyek tersebut sebagai bagian dari upaya membangun "personal super intelligence". Menurutnya, masa depan yang hanya bergantung pada "satu AI besar" yang digunakan semua orang akan menjadi "masa depan yang buruk, tidak peduli seberapa hebat AI tersebut."

Optimisme Zuckerberg terhadap kacamata pintar juga bukan hal baru. Tahun lalu, ia pernah mengatakan bahwa orang yang tidak menggunakan kacamata AI suatu hari nanti bisa berada pada "kerugian kognitif yang cukup signifikan."

Dalam paparan kinerja Meta pada Januari lalu, Zuckerberg juga menyebut penjualan kacamata pintar perusahaan melonjak tiga kali lipat dalam setahun terakhir.

Ia bahkan menyebut produk tersebut sebagai "salah satu perangkat elektronik konsumen dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah."

Namun, ambisi besar Zuckerberg terhadap kacamata pintar membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Divisi Reality Labs milik Meta, yang menaungi bisnis kacamata pintar, membukukan kerugian sebesar US$19,2 miliar sepanjang 2025. Sementara itu, Meta memperkirakan belanja modal (capital expenditure/capex) pada 2026 dapat mencapai US$145 miliar.

Meski demikian, Zuckerberg menilai strategi tersebut sejalan dengan filosofi bisnis Meta.

"Formula perusahaan kami selalu membangun pengalaman yang dapat menjangkau miliaran orang, lalu berfokus pada monetisasinya setelah berhasil mencapai skala besar," katanya.

Di sisi lain, penggunaan kacamata pintar Meta juga sempat menimbulkan kontroversi. Pada Februari lalu, seorang hakim mengancam akan menjatuhkan sanksi penghinaan terhadap pengadilan kepada anggota rombongan Zuckerberg karena mengenakan kacamata yang memiliki kemampuan merekam ke ruang sidang yang melarang perekaman.


(dem/dem) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Perkuat Konektivitas, Komdigi Bangun Jaringan-Lelang Frekuensi