Tagihan Starlink Bengkak Sampai Rp 27 Juta, Pelanggan Merasa Dirampok

Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
Senin, 06/07/2026 11:05 WIB
Foto: Starlink. (Starlink.com)

Jakarta, CNBC Indonesia - Tagihan pelanggan Starlink membengkak hingga US$1.500 (Rp 27 juta). Penambahan tarif ini terjadi saat layanan satelit milik Elon Musk tengah menghadapi beberapa tekanan.

Beban tarif itu disebut sebagai 'biaya tambahan permintaan' karena alamat pelanggan berada dalam wilayah dengan permintaan tertinggi. Tambahan itu berkisar US$750-US$1500 (Rp 13,4 juta - Rp 27 juta).


"Starlink terlalu padat menangani beban dalam skala besar, membebankan biaya tambahan secara diam-diam sebesar US$750-US$1500 kepada pelanggan," ungkap laporan Karl Bode dari TechDirt, dikutip dari Futurism, Senin (6/7/2026).

Sejumlah pengguna juga telah mengungkapkan kemarahan mereka atas penambahan ini. Seorang pelanggan dalam unggahan Reddit mengatakan mendapatkan tambahan US$1.500 setelah melakukan verifikasi alamat yang didaftarkan tiga tahun lalu.

"Saya telah menghubungi layanan pelanggan Starlink, namun tidak ada gunanya. Saya dioper dari agen ke agen lain selama lima hari terakhir," jelasnya.

Sementara beberapa pelanggan lainnya menyebut kebijakan ini sebagai perampokan. Mereka juga melaporkan seorang agen Starlink menyebut masalah ini sebagai kesalahan sistem internal namun tidak ada solusi untuk mengatasinya.

"Tapi dia tidak bisa membatalkannya karena jumlahnya besar dan akan mengajukan eskalasi kasus, namun dia dalam pesan terakhir mengatakan tidak bisa mengatasi hal ini," ucap pelanggan.

Tambahan US$500 (Rp 9 juta) diterima pengguna lain yang tengah bepergian dengan RV. Dia menceritakan tengah berada di area dengan biaya tambahan permintaan tinggi.

Pengguna tersebut mencoba banding dan mengancam akan berhenti menggunakan jika tidak ada penyelesaian. Namun pihak Starlink menolak permintaan tersebut.

Sejumlah pelanggan lain mendapatkan pengembalian dana setelah terdeteksi kesalahan koordinat lokasi mereka. Sementara pengguna lain pada akhirnya harus membayar biaya yang lebih mahal untuk menggunakan Starlink.

Di Indonesia, belum terdengar keluhan serupa. Di laman resmi Starlink Indonesia, masih tersedia layanan berlangganan yang sama, yakni 'Residensial Lite' seharga 510.000/bulan dengan kecepatan hingga 200Mbps. Paket berlangganan internet cepat ini disebut andal untuk penggunaan rumah sehari-hari.

Sementara itu, untuk paket 'Residensial' dengan kecepatan hingga 350 Mbps, dipatok seharga Rp800.000/bulan. 


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas