Kota Kuno yang Hilang Ditemukan, Ungkap Kisah Peradaban Manusia

Emir Yanwardhana,  CNBC Indonesia
05 July 2026 15:00
Foto udara menunjukkan penemuan gereja zaman Bizantium di Kiryat Gat, Israel, (6/1/2025).
Foto: Foto udara menunjukkan penemuan gereja zaman Bizantium di Kiryat Gat, Israel, (6/1/2025).

Jakarta, CNBC Indonesia - Arkeolog di Mesir menemukan sebuah kota kuno di era kekaisaran Bizantium di wilayah gurun barat.

Pemukiman itu berasal dari abad ke-4 Masehi mencakup bangungn tempat tinggal dan bangunan keagamaan, termasuk sebuah gereja bergaya basilika di Oasis Dakhla. Arkeolog itu juga menemukan koin, pecahan tembikar, serta berbagai peralatan.

Dalam penemuan terpisah, tim arkeolog lainnya juga menemukan 18 makan kuno di Marina el-Alamein, yang terletak dekat Alexandria. Penemuan itu terdiri dari makam yang dipahat batu, makam dari batu kapur, tembikar, serta sebuah sarkofagus granit.

Melansir The Guardian, (5/7/2026), Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir menyatakan bahwa penemuan pertama memberikan gambaran rinci mengenai kehidupan sehari-hari, perkembangan tata kota, serta aktivitas ekonomi pada masa mesir masih menjadi bagian dari Kekaisaran Bizantium.

Permukiman yang ditemukan memiliki jalan utama membujur dari utara ke selatan yang berpotongan dengan jalan dari timur ke barat, membentuk alun-alun terbuka dan ruang publik. Hal tersebut diungkapkan oleh Hisham el-Leithy, Sekretaris Jenderal Dewan Tertinggi Purbakala Mesir.

Di bagian utama permukiman berdiri sebuah gereja bergaya basilika yang berasal dari pertengahan abad ke-4, menghadap ke jalan-jalan utama kota. Di kawasan tersebut juga ditemukan sisa-sisa dua menara pengawas yang diduga digunakan untuk menjaga wilayah pinggiran kota, menurut Mahmoud Massoud, ketua misi arkeologi.

Oasis Dakhla, yang berada di Provinsi New Valley di Mesir barat, saat ini masuk dalam daftar tentatif UNESCO sebagai calon Situs Warisan Dunia.

Massoud menambahkan, timnya juga menemukan sebuah bangunan yang memiliki benteng pertahanan kuat dengan dinding tebal, serta banyak rumah yang dilengkapi ruang penerima tamu dan atap berbentuk lengkung.

Salah satu bangunan yang ditemukan adalah rumah milik Tisous, seorang diakon gereja, yang diperkirakan berasal dari paruh kedua abad ke-4. Para arkeolog meyakini bangunan itu sempat difungsikan sebagai gereja rumah sebelum basilika utama kota dibangun.

Selain itu, ditemukan pula tungku pembuat roti, dapur, alat penggiling, serta koin-koin perunggu yang menampilkan potret para kaisar Bizantium, prasasti berbahasa Latin, dan simbol-simbol Kristen.

Sekelompok koin emas yang ditemukan diketahui berasal dari masa pemerintahan Kaisar Romawi Constantius II, yang memerintah antara tahun 337 hingga 361 Masehi.

Kepala Departemen Purbakala Islam, Koptik, dan Yahudi, Diaa Zahran, mengatakan timnya menemukan sekitar 200 pecahan tembikar atau ostraca yang pada masa lalu digunakan sebagai media tulis. Pecahan tersebut berisi catatan mengenai transaksi perdagangan, surat-menyurat, serta berbagai aspek kehidupan sehari-hari masyarakat saat itu.

Sementara itu, di situs arkeologi Marina el-Alamein yang berjarak sekitar 100 kilometer di sebelah barat Alexandria, para arkeolog menemukan 18 makam kuno.

Terkait temuan makam, Kementerian Pariwisata dan Purbakala Mesir mengatakan 11 makam itu dihapat di batu dengan kedalaman rata-rata delapan meter, serta tujuh makam permukaan yang dibangun menggunakan batu kapur. Totalnya ada 48 makam yang ditemukan.

Di area pemakaman, tim juga menemukan berbagai artefak seperti kendi, amphora, lampu minyak, piring, altar, dan wadah batu kapur.

Kepala misi arkeologi, Eman Abdel-Khaliq, mengatakan pihaknya menemukan sebuah sarkofagus granit sepanjang sekitar 2,5 meter yang masih berisi sisa-sisa kerangka manusia dan kini sedang diteliti lebih lanjut. Di dekat sarkofagus itu juga ditemukan sisa patung sphinx yang terbuat dari plester.

Empat keping emas juga ditemukan dan diletakan dalam mulut beberapa jenazah. Praktik ini dikenal dengan "lidah emas" merupakan tradisi pemakaman yang dapat membantu orang meninggal berbicara dengan para dewa di alam baka.

Marina el-Alamein merupakan situs arkeologi yang berada di dekat Kota Alamein di pesisir utara Mesir. Situs tersebut pertama kali ditemukan pada 1986. Para arkeolog meyakini kawasan itu merupakan kota pelabuhan kuno Yunani-Romawi bernama Leukaspis, yang dibangun pada abad ke-2 Masehi dan berkembang pesat hingga abad ke-4.

 

(luc/luc) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Bukti Musa Terima 10 Perintah Allah Ditemukan, Peneliti Buka Suara


Most Popular
Features