Fenomena Baru di Korea: Aplikasi Belanja "Palsu" Jadi Pelarian Gen Z

Thea Arbar, CNBC Indonesia
Sabtu, 04/07/2026 18:15 WIB
Foto: Situs web pemesanan makanan palsu FoodNeverArrives menampilkan pilihan menu ayam. (Tangkapan Layar)
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena unik tengah merebak di Korea Selatan. Di tengah tekanan biaya hidup yang semakin tinggi, muncul sederet aplikasi dan situs belanja "palsu" yang memungkinkan pengguna merasakan sensasi berbelanja atau memesan makanan tanpa benar-benar mengeluarkan uang.

Tren yang dijuluki sebagai dopamine sites ini menjadi cara baru bagi Generasi Z untuk memuaskan hasrat konsumtif tanpa harus benar-benar mengeluarkan uang maupun menanggung penyesalan setelah berbelanja.

Menurut profesor emeritus psikologi Universitas Nasional Seoul, Kwak Keum-joo, daya tarik platform tersebut bukan sekadar memberikan sensasi berbelanja, tetapi juga menjadi pelampiasan dorongan konsumsi di tengah tekanan ekonomi.


"Saat ini, kita terus-menerus didorong untuk mengonsumsi, sehingga keinginan untuk membeli barang selalu ada. Namun setelah melakukan pembelian, orang sering menyesal karena telah menghabiskan terlalu banyak uang. Situs web ini mungkin menawarkan cara untuk memuaskan dorongan tersebut sekaligus mengurangi rasa penyesalan," ujarnya, seperti dikutip Korea JoongAng Daily, Sabtu (4/7/2026).

Belanja dan Pesan Makanan, Tapi Tak Pernah Datang

Salah satu platform yang paling banyak dibicarakan adalah situs pemesanan makanan virtual yang diluncurkan pada akhir Maret 2026. Pengguna dapat memilih menu layaknya aplikasi pesan-antar makanan sungguhan, mulai dari ayam goreng, pizza, sushi, hingga bingsu.

Mereka bisa memasukkan makanan ke keranjang, mengisi alamat, memilih metode pembayaran, lalu menekan tombol "pesan". Bahkan, pengantar virtual terlihat bergerak menuju lokasi pengguna melalui peta.

Namun, tidak ada makanan yang benar-benar datang. Tidak ada restoran yang menerima pesanan maupun uang yang dipotong dari rekening. Sebagai gantinya, pengguna mendapat notifikasi bahwa mereka baru saja menghemat sekitar 2.120 kalori, lengkap dengan bukti transaksi virtual senilai US$22,38 atau sekitar Rp400.600 (kurs Rp17.900/US$).

Situs tersebut dibuat oleh Park Seo-hyun, pria berusia 27 tahun yang mengaku dulu sangat sering memesan makanan larut malam.

"Saya dulu memesan makanan sekitar 10 kali seminggu. Saya mudah kecanduan. Suatu hari saya bercanda ingin bisa memesan makanan tanpa benar-benar menerimanya, lalu teman-teman menyuruh saya membuat situs seperti itu," ujarnya.

Platform yang tampilannya dibuat sangat mirip dengan aplikasi populer seperti Baedal Minjok dan Coupang Eats itu ternyata disambut antusias. Hingga pertengahan Juni, sekitar 30.000 orang setiap pekan menggunakan layanan tersebut untuk "berbelanja". Bahkan Park berencana merilis versi aplikasi dengan pengalaman yang dibuat semakin realistis, termasuk aturan minimum pembelian layaknya layanan asli.

Dari Makanan Virtual hingga Barang Imajiner

Fenomena ini tak berhenti di makanan. Bermunculan pula situs belanja virtual yang menawarkan produk-produk imajinatif. Pengguna dapat "membeli" barang seperti Moon Rabbit Moonlight Mortar seharga 120.000 won atau sekitar Rp1,39 juta, hingga pita perekat yang diklaim mampu memperbaiki persahabatan yang retak seharga 50.000 won.

Layaknya marketplace sungguhan, pengguna bisa memasukkan barang ke keranjang, menyelesaikan pembayaran, hingga meninggalkan ulasan lucu untuk produk yang sebenarnya tidak pernah ada.

Pengembang situs tersebut mengaku inspirasinya datang dari manga dan anime Doraemon. "Setiap menghadapi kesulitan, saya sering membayangkan betapa menyenangkannya jika ada alat yang bisa menyelesaikan semuanya secara ajaib. Membayangkan sesuatu tidak membutuhkan biaya dan tidak menyakiti siapa pun," katanya.

Di luar dugaan, banyak pengguna justru menikmati pengalaman tersebut. "Orang-orang memperlakukannya seperti pusat belanja sungguhan dan membagikan pengalaman mereka di media sosial. Mungkin karena proses berbelanja itu sendiri memang menyenangkan, bukan hanya memiliki barangnya," tambah sang pengembang.

Kenapa Gen Z Menyukainya?

Popularitas dopamine sites kini meluas hingga ke luar Korea Selatan. Bermunculan platform serupa seperti FoodNeverComes yang menawarkan pilihan kuliner lebih beragam, hingga DopamineCart yang meniru pengalaman berbelanja di Amazon tanpa transaksi nyata.

Media internasional seperti The Times dan Psychology Today pun ikut menyoroti fenomena tersebut sebagai tren baru yang lahir dari tekanan ekonomi dan budaya konsumsi digital.

Menurut Kwak, daya tarik situs-situs tersebut bukan sekadar memicu hormon dopamin. Algoritma platform belanja selama ini terus mendorong orang membeli produk serupa sehingga pengeluaran meningkat dan penyesalan pun muncul. Dalam situasi ekonomi yang penuh tekanan, situs belanja virtual menawarkan kepuasan psikologis tanpa konsekuensi finansial.

Fenomena itu muncul ketika tekanan ekonomi di Korea Selatan masih terasa. Inflasi konsumen pada Juni tercatat mencapai 3,2% secara tahunan, menjadi laju tercepat dalam dua setengah tahun. Sementara itu, nilai transaksi belanja online pada Mei menembus 25 triliun won, naik sekitar 10% dibandingkan tahun sebelumnya, didorong oleh meningkatnya pembelian kebutuhan pokok dan kosmetik.

Di tengah derasnya godaan untuk berbelanja, aplikasi "palsu" ini justru menjadi pelarian baru. Tak ada barang yang benar-benar datang ke rumah, tetapi bagi sebagian orang, sensasi menekan tombol checkout saja sudah cukup membuat dompet tetap aman sekaligus mengurangi penyesalan setelah berbelanja.

Situs web pemesanan makanan palsu FoodNeverArrives menampilkan pilihan menu ayam. (Tangkapan Layar) Foto: Situs web pemesanan makanan palsu FoodNeverArrives menampilkan pilihan menu ayam. (Tangkapan Layar)

 


(dce) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas