Tinggalkan Sekolah Formal, Orang Kaya Kini Pilih Sekolah AI

Fergi Nadira, CNBC Indonesia
Sabtu, 04/07/2026 15:30 WIB
Foto: Ilustrasi Transformasi Digital. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Muncul tren baru di kalangan keluarga berpenghasilan tinggi di Amerika Serikat. Mereka mulai meninggalkan sekolah konvensional dan memilih sekolah alternatif yang menggabungkan kecerdasan buatan (AI), pembelajaran berbasis proyek, hingga pelatihan keterampilan hidup seperti negosiasi, berbicara di depan umum, hingga membangun bisnis.

Salah satunya dilakukan Ankur Jain, seorang presiden hedge fund di New Jersey. Meski anaknya yang berusia 11 tahun berprestasi dan nyaman di sekolah negeri, ia memutuskan memindahkannya ke Forge Prep, sekolah baru yang mengajarkan siswa memecahkan masalah nyata, merancang produk, hingga membangun perusahaan sejak usia dini.


Menurut Jain, kemampuan seperti negosiasi, penjualan, dan public speaking justru menjadi bekal penting yang baru ia kuasai saat berusia 20-an tahun.

"Masa depan sedang berubah. Kalau kita masih mengajar anak-anak dengan cara yang sama seperti 60, 70, atau 80 tahun lalu, bagaimana kita mempersiapkan mereka?" ujar Jain, dikutip dari The Wall Street Journal, Sabtu (4/7/2026).

Fenomena ini semakin berkembang di kalangan orang tua kaya yang menilai perkembangan AI akan mengubah pasar tenaga kerja secara drastis. Mereka mulai mempertanyakan apakah sistem pendidikan tradisional masih relevan untuk mempersiapkan anak menghadapi masa depan.

Sekolah-sekolah alternatif tersebut umumnya lebih menekankan keterampilan praktis dibanding hafalan akademik. Guru juga tidak lagi disebut sebagai "teacher", melainkan "guide" atau "coach". Beberapa sekolah bahkan menggunakan tutor berbasis AI yang dapat menyesuaikan materi belajar berdasarkan kemampuan, minat, hingga tingkat perhatian masing-masing siswa.

Salah satu sekolah yang paling banyak mendapat perhatian adalah Alpha School, yang didirikan di Austin, Texas, sekitar 12 tahun lalu. Sekolah ini menggabungkan dua jam pembelajaran menggunakan AI setiap hari dengan lokakarya berbasis proyek secara langsung.

Biaya sekolahnya pun tidak murah. Di San Francisco, uang sekolah mencapai US$75.000 per tahun, atau sekitar Rp1,2 miliar (asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS).

Seorang investor modal ventura asal San Francisco, Shaun Johnson, memilih menyekolahkan anaknya di Alpha setelah tidak puas dengan sekolah negeri yang diperoleh melalui sistem undian. Menurutnya, pendidikan saat ini perlu dirombak karena dunia kerja akan berubah akibat AI.

"Kami menyadari sistem pendidikan kemungkinan memang sudah rusak dan akan ada para entrepreneur yang mencoba memperbaikinya," kata Johnson.

Ia menilai AI bukan digunakan sekadar mengikuti tren, melainkan untuk menciptakan pengalaman belajar yang benar-benar personal. Platform AI di Alpha School mencatat interaksi setiap siswa, termasuk tingkat fokus saat belajar, kemudian menyesuaikan kurikulum untuk hari-hari berikutnya.

"Ini bukan AI demi AI. Ini soal personalisasi," ujarnya.

Alpha School juga pernah mendapat sorotan karena didukung sejumlah tokoh ternama, termasuk miliarder Bill Ackman. Meski demikian, model pendidikan seperti ini juga menuai kritik.

Profesor pendidikan dari Stanford University, Caroline Hoxby mengatakan, pembelajaran berbasis proyek sebenarnya bukan konsep baru. Yang berbeda saat ini adalah integrasi AI ke dalam proses belajar.

Namun, ia mengingatkan efektivitas model tersebut masih belum memiliki bukti ilmiah yang kuat.

"Saya bukan pendukung model pendidikan apa pun yang belum memiliki bukti empiris ilmiah yang memadai," kata ia.

Senada, profesor pendidikan dari Stanford, Victor Lee menilai, penggunaan istilah "guide" sebagai pengganti guru berpotensi mengurangi penghargaan terhadap profesi pendidik.

"Hal itu bisa berdampak negatif terhadap pengakuan atas keahlian dan profesionalisme yang dimiliki para guru," ujarnya.

Di sisi lain, pendiri Forge Prep Anand Sanwal optimistis pendekatan baru ini akan menjadi masa depan pendidikan. Sekolah yang baru dibuka di New Jersey tersebut menerima sekitar 600 pendaftar untuk tahun ajaran pertamanya, meski hanya menyediakan 34 kursi bagi siswa kelas 5 hingga kelas 8.

Ke depan, Forge Prep berencana berkembang hingga jenjang kelas 12 dengan sekitar 400 siswa. Bahkan, lulusan yang memilih membangun perusahaan setelah lulus berpeluang memperoleh investasi awal hingga US$200.000 dari Forge.

Biaya sekolah angkatan pertama berkisar US$24.000-36.000 per tahun, dengan sekitar 30% siswa menerima bantuan keuangan. Tahun depan, biaya sekolah akan naik menjadi US$60.000 per tahun.

Sanwal mengatakan, sekolahnya tetap membatasi penggunaan teknologi. Ponsel dilarang digunakan di lingkungan sekolah dan penggunaan Chromebook juga dibatasi. AI, menurutnya, hanya digunakan untuk membantu siswa menciptakan sesuatu, bukan sekadar mengonsumsi informasi.

"Dunia berubah sangat cepat. Saya cukup yakin model pendidikan yang dialami para orang tua dulu tidak akan cukup untuk menghadapi apa yang akan terjadi," katanya.


(fsd/fsd) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video: Urgensi Pemanfaatan Teknologi AI Demi Efisiensi & Produktivitas