Raffi Ahmad Dkk Terancam Makin Miskin, Tandanya Sudah Ada di Amerika
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia kreator konten dan influencer sering terlihat penuh gemerlap, dengan bayangan penghasilan besar dan popularitas yang melambung tinggi. Namun, kenyataan di balik layar justru makin menantang. Seperti yang terlihat sejak awal di Amerika Serikat, kondisi ini kini makin terasa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sehingga bahkan nama-nama besar seperti Raffi Ahmad dan rekan-rekannya pun tidak luput dari risiko ketatnya persaingan dan perubahan aturan pendapatan.
Sejak beberapa tahun terakhir, industri ini semakin sesak. Berdasarkan laporan Goldman Sachs tahun 2023, tercatat sekitar 50 juta orang di seluruh dunia memperoleh penghasilan dari konten media sosial. Angka ini terus melonjak dan diperkirakan melampaui 80 juta orang pada pertengahan 2026 dengan pertumbuhan tahunan yang diproyeksikan tetap berlangsung antara 12% hingga 18% hingga tahun 2028. Akibatnya, "kue pendapatan" yang tersedia harus dibagi ke lebih banyak tangan, sehingga porsi yang didapatkan setiap orang pun makin menyempit.
Ketimpangan pendapatan menjadi semakin terlihat jelas. Data dari lembaga riset NeoReach menunjukkan bahwa pada tahun 2024, sebanyak 48% kreator hanya meraup pendapatan kurang dari US$ 15.000 atau sekitar Rp 245 juta per tahun, dan hanya 14% yang mampu memperoleh lebih dari US$ 100.000 atau setara Rp 1,6 miliar. Kondisi ini makin memburuk pada periode 2025-2026 menurut pembaruan data Influencer Marketing Hub, yaitu sekitar 55% kreator hanya berpenghasilan di bawah US$ 18.000 atau sekitar Rp 320 juta setahun, sedangkan persentase mereka yang berpenghasilan tinggi justru menyusut menjadi hanya 10% hingga 12%.
Contoh nyata bisa dilihat dari laporan The Wall Street Journal yang diperbarui pada awal 2026. Disebutkan, kreator asal Amerika Serikat, Clint Brantley, meskipun memiliki lebih dari 400.000 pengikut dan rata-rata penayangan 100.000 kali per konten, pendapatannya pada tahun 2025 hanya berkisar US$ 42.000 per tahun. Angka ini masih berada di bawah gaji rata-rata pekerja penuh waktu di Amerika Serikat yang mencapai US$ 61.900 per tahun, dengan ketidakpastian yang tinggi karena pendapatannya bisa berubah drastis hingga 30% hingga 50% dari bulan ke bulan.
Perubahan kebijakan pembayaran dari platform media sosial menjadi salah satu faktor utama yang mempersempit aliran kas kreator. Masa-masa platform memberikan bonus besar untuk menarik pembuat konten baru sudah berakhir. Kini, aturan makin diperketat dan persyaratannya makin tinggi, sebagaimana diulas dalam laporan industri eMarketer tahun 2025-2026.
TikTok misalnya, menghentikan program dana kreator lama dan menggantinya dengan Program Penghargaan Kreator yang berlaku mulai 2025. TikTok mengumumkan untuk bisa menerima bayaran, seseorang harus memiliki minimal 10.000 pengikut, mendapatkan 100.000 penayangan dalam 30 hari, serta membuat konten berdurasi minimal 60 detik.
Meskipun besaran bayaran per 1.000 penayangan sedikit meningkat, pendapatan langsung dari platform saja tidak lagi cukup untuk diandalkan. Hal serupa dialami oleh kreator lain seperti Ben-Hyun, yang memiliki 2,9 juta pengikut. Jika sebelumnya ia bisa mendapatkan sekitar US$ 1.200 untuk konten yang ditonton 10 juta kali, kini ia hanya menerima sekitar US$ 100 hingga US$ 300 untuk jumlah penayangan yang sama, sesuai catatan Creator Economy Report 2026.
YouTube juga menerapkan standar yang lebih ketat. Berdasarkan kebijakan terbaru YouTube, bagi konten pendek atau Shorts, untuk bisa berbagi pendapatan iklan sebesar 45%, seorang kreator harus memiliki setidaknya 1.000 pengikut dan mencapai 10 juta penayangan dalam waktu 90 hari. Sementara itu, konten berdurasi panjang masih memberikan bayaran yang lebih baik, tetapi persaingannya pun jauh lebih ketat.
Instagram juga memperbarui sistemnya menjadi program Reels Bonus+ yang pembayaran didasarkan pada pencapaian target tertentu dan bukan sekadar jumlah penayangan, sehingga jumlahnya tidak menentu setiap bulannya, sebagaimana diumumkan oleh Meta pada awal 2026.
Di Indonesia sendiri, dinamika ini juga terasa nyata. Menurut data Asosiasi E-Commerce dan Pemasaran Digital Indonesia (APEDI) serta laporan We Are Social & Hootsuite tahun 2026, nilai pasar pemasaran melalui influencer diperkirakan mencapai Rp 4,2 triliun atau sekitar US$ 275 juta, tetapi pertumbuhannya melambat menjadi hanya 12% hingga 15% per tahun setelah sebelumnya melesat hingga di atas 40%.
Dari sekitar 3,5 juta kreator aktif di tanah air, yang sekitar 800 ribu di antaranya bekerja secara penuh waktu, hanya sekitar 3% hingga 5% saja yang bisa mengantongi pendapatan lebih dari Rp 100 juta setiap bulan.
Rata-rata pendapatan kreator di Indonesia pun bervariasi tajam. Mereka dengan 1.000 hingga 10.000 followers biasanya hanya mendapatkan Rp 500 ribu hingga Rp 5 juta per bulan, sedangkan mereka yang memiliki 10.000 hingga 50.000 pengikut berkisar antara Rp 5 juta hingga Rp 20 juta.
Hanya kelompok dengan pengikut sangat besar, seperti yang dimiliki oleh Raffi Ahmad dan sejumlah pesohor lainnya, yang masih bisa menikmati pendapatan di atas Rp 200 juta bahkan hingga miliaran rupiah per bulan, tetapi mereka tidak lagi bisa bergantung hanya pada satu sumber penghasilan.
Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah sifat pekerjaan ini yang tidak memberikan jaminan layaknya pekerjaan kantoran. Tidak ada tunjangan kesehatan, dana pensiun, atau bonus tahunan. Ditambah lagi, tekanan untuk terus menciptakan konten yang diminati penonton, mengikuti tren yang cepat berubah, serta menjaga interaksi dengan pengikut menjadikan profesi ini sangat menguras tenaga dan pikiran.
(dem/dem) Add
source on Google