Teknologi AI Milik RI Pantau 'Kiriman' Matahari Sebelum Sampai ke Bumi
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk memprediksi fenomena badai Matahari. Teknologi itu diharapkan bisa jadi pemberi peringatan awal dan mempersiapkan diri sebelum badai menghantam Bumi.
Memprediksi datangnya Coronal Mass Ejection (CME) atau pemicu utama badai Matahari merupakan tantangan besar untuk para peneliti. Sebab kondisi angin surya disebut sangat dinamis dan berubah-ubah, membuatnya sulit untuk dibuat model yang akurat dengan hanya pendekatan fisika konvensional.
Peneliti Pusat Riset Antariksa, Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa BRIN, Tiar Dani bersama tim mencoba mengatasi masalah tersebut dengan menggunakan pendekatan hukum fisika dan kecerdasan buatan. Model fisika yang digunakan, Drag-Based Model (DBM) akan menggambarkan pengaruh hambatan angin surya pada pergerakan partikel tinggi dari peristiwa CME.
Model itu dipadukan dengan AI berbasis Random Forest. AI menggunakan data historis dan sejumlah kejadian CME yang diamati selama dua siklus aktivitas Matahari.
"Melalui proses pembelajaran dari data tersebut, AI mampu memperkirakan besarnya hambatan yang akan dialami setiap CME selama perjalanannya menuju Bumi. Dengan kata lain, sistem ini tidak hanya memahami aturan fisika yang mendasari pergerakan CME, tetapi juga belajar dari pengalaman masa lalu untuk menghasilkan prediksi kapan CME akan tiba yang lebih akurat," kata Tiar dalam keterangan resmi, dikutip dari laman BRIN, Selasa (30/6/2026).
Model DBM Hibrida fisika-AI yang dikembangkan mampu memprediksi waktu tempuh CME dengan tingkat kesalahan yang diklaim sekitar 8,7 jam. Sebagai informasi, capaian ini tergolong kompetitif dalam bidang cuaca antariksa dan bisa menunjukkan peningkatan kemampuan prediksi yang signifikan.
Model tersebut juga bisa memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan DBM standar. Karena model standar memberikan asumsi hambatan angin surya pada pergerakan partikel berenergi tinggi dari CME bersifat kontan.
Dengan capaian ini diharapkan bisa menjadi sistem peringatan dini bagi cuaca antariksa dan lebih awal sebelum badai Matahari menghantam Bumi. Para operator satelit, penyedia layanan komunikasi, dan pengelola infrastruktur kritis juga bisa mengambil langkah antisipasi dan menimalkan dampak dengan informasi yang didapatkan lebih cepat dan akurat.
"Melalui riset ini fondasi untuk pemanfaatan kecerdasan buatan dalam ranah antariksa di Indonesia akan makin kuat. Ke depannya, inovasi ini akan menjadi bagian penting dari inisiatif Research in AI for Space yang sedang kami bangun. Tujuannya adalah menciptakan kerangka kerja peringatan dini cuaca antariksa yang sepenuhnya mandiri, tangguh, dan dapat terus dikembangkan secara otomatis untuk melindungi infrastruktur teknologi masa depan," ujarnya
(dem/dem) Add
source on Google