Negara Hancur Lebur Dalam 39 Detik, Cek Fakta Gempa Dahsyat Venezuela
Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela diguncang dua gempa bumi berkekuatan 7,2 dan 7,5 skala richter pada Rabu (24/6). Dua gempa bumi kuat yang mengguncang pesisir utara Venezuela itu merupakan fenomena yang dikenal sebagai gempa kembar atau doublet earthquake. Hanya terdapat jeda tiga puluh sembilan detik dari gempa pertama ke gempa kedua.
Dalam kurun waktu kurang dari semenit, data hingga Senin (29/6), tercatat jumlah korban tewas akibat gempa mencapai 1.430 jiwa. Otoritas parlemen nasional melaporkan bahwa bencana alam dahsyat tersebut juga melukai sedikitnya 3.200 orang dan menyebabkan 3.100 warga kehilangan tempat tinggal serta 68.900 orang dilaporkan hilang oleh keluarga mereka.
Gempa kembar tergolong jauh lebih jarang terjadi dibandingkan gempa bumi pada umumnya, yang biasanya hanya diikuti gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil.
Penyebab gempa kembar
Direktur US Geological Survey (USGS) Earthquake Science Centre di California, Christine Goulet, mengatakan gempa kembar dapat terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya struktur patahan yang kompleks, seperti yang dimiliki Venezuela. Negara itu memiliki Sesar Bocono yang membentang sekitar 500 kilometer di sepanjang Pegunungan Andes Venezuela.
Lebih lanjut ia menjelaskan, sebagian besar gempa bumi terjadi di batas pertemuan lempeng tektonik. Dalam kasus Venezuela, dua gempa pekan ini dipicu oleh patahan di zona pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
Gempa kembar itu terjadi ketika Lempeng Karibia yang berada di utara Venezuela bergerak ke arah timur relatif terhadap Lempeng Amerika Selatan dengan kecepatan rata-rata sekitar 2 sentimeter per tahun.
"Itu merupakan pergeseran yang besar. Besarnya sekelas dengan Sesar San Andreas," kata Goulet, dikutip dari ABCnet, Senin (29/6/2026).
Pergerakan tersebut merupakan jenis patahan geser dangkal (shallow strike-slip faulting), yaitu ketika dua blok batuan bergeser secara horizontal saling melewati satu sama lain.
Meski demikian, Goulet menegaskan jenis pergerakan tersebut tidak otomatis lebih berbahaya.
"Pergerakan yang lebih vertikal bisa lebih merusak," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tingkat kerusakan juga ditentukan oleh faktor lain, termasuk panjang patahan yang mengalami retakan.
Apakah Venezuela akan kembali diguncang gempa?
Menurut data USGS, dalam satu abad terakhir hanya ada tujuh gempa berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di sekitar lokasi gempa terbaru. Salah satunya adalah gempa kembar pada 2025 di wilayah barat laut Caracas.
Para ilmuwan menegaskan gempa bumi tidak dapat diprediksi. Namun, gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa besar.
USGS memperkirakan terdapat peluang 99% akan terjadi sedikitnya satu gempa susulan bermagnitudo 4 dalam sepekan ke depan di Venezuela. Selain itu, ada peluang 24% terjadi gempa susulan berkekuatan magnitudo 6.
Berbeda dengan sejumlah negara lain, Venezuela hingga kini belum memiliki sistem peringatan dini gempa yang memanfaatkan sensor untuk mendeteksi gelombang awal gempa.
"Sangat menyedihkan karena pada dasarnya tidak ada waktu untuk melakukan evakuasi," kata Goulet.
Pada September 2025, gempa bumi ganda juga pernah melanda Venezuela utara dengan kekuatan M 6,2 dan M 6,3. Peristiwa tersebut terjadi di daratan, bukan di bawah laut, dan menyebabkan kerusakan parah, setidaknya satu orang meninggal, dan lebih dari seratus orang terluka.
(fab/fab) Add
source on Google