Fakta Gempa Kembar Maut di Venezuela, Pakar Ungkap Penyebabnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Dua gempa bumi kuat yang mengguncang pesisir utara Venezuela hingga menewaskan ratusan orang merupakan fenomena yang dikenal sebagai gempa kembar (doublet earthquake).
Fenomena ini terjadi ketika dua gempa dengan magnitudo yang hampir sama mengguncang lokasi yang berdekatan dalam rentang waktu yang sangat singkat.
Pada Rabu malam waktu setempat, gempa berkekuatan magnitudo 7,2 mengguncang lebih dulu. Hanya berselang 39 detik, gempa kedua yang lebih kuat dengan magnitudo 7,5 kembali menghantam wilayah tersebut.
Rangkaian gempa dahsyat itu merobohkan banyak bangunan di ibu kota Venezuela, Caracas, dan sejumlah wilayah lainnya. Laporan awal menyebutkan sekitar 1.500 orang mengalami luka-luka, sementara ribuan lainnya masih dilaporkan hilang. Wilayah pesisir La Guaira, yang berada di utara Caracas, menjadi daerah dengan kerusakan dan korban jiwa paling parah.
Gempa kembar tergolong jauh lebih jarang terjadi dibandingkan gempa bumi pada umumnya, yang biasanya hanya diikuti gempa susulan dengan kekuatan lebih kecil.
Direktur USGS Earthquake Science Centre di California, Christine Goulet, mengatakan gempa kembar dapat terjadi di berbagai belahan dunia.
Menurutnya, fenomena tersebut menunjukkan adanya struktur patahan yang kompleks, seperti yang dimiliki Venezuela. Negara itu memiliki Sesar Bocono yang membentang sekitar 500 kilometer di sepanjang Pegunungan Andes Venezuela.
Penyebab gempa kembar
Sebagian besar gempa bumi terjadi di batas pertemuan lempeng tektonik. Dalam kasus Venezuela, dua gempa pekan ini dipicu oleh patahan di zona pertemuan Lempeng Karibia dan Lempeng Amerika Selatan.
Gempa kembar itu terjadi ketika Lempeng Karibia yang berada di utara Venezuela bergerak ke arah timur relatif terhadap Lempeng Amerika Selatan dengan kecepatan rata-rata sekitar 2 sentimeter per tahun.
"Itu merupakan pergeseran yang besar. Besarnya sekelas dengan Sesar San Andreas," kata Goulet, dikutip dari ABCnet, Jumat (26/6/2026).
Pergerakan tersebut merupakan jenis patahan geser dangkal (shallow strike-slip faulting), yaitu ketika dua blok batuan bergeser secara horizontal saling melewati satu sama lain.
Meski demikian, Goulet menegaskan jenis pergerakan tersebut tidak otomatis lebih berbahaya.
"Pergerakan yang lebih vertikal bisa lebih merusak," ujarnya, seraya menambahkan bahwa tingkat kerusakan juga ditentukan oleh faktor lain, termasuk panjang patahan yang mengalami retakan.
Lantas, apakah Venezuela akan kembali diguncang gempa?
Menurut data US Geological Survey (USGS), dalam satu abad terakhir hanya ada tujuh gempa berkekuatan magnitudo 6 atau lebih yang terjadi di sekitar lokasi gempa terbaru. Salah satunya adalah gempa kembar pada 2025 di wilayah barat laut Caracas.
Para ilmuwan menegaskan gempa bumi tidak dapat diprediksi. Namun, gempa susulan merupakan fenomena yang lazim terjadi setelah gempa besar.
USGS memperkirakan terdapat peluang 99% akan terjadi sedikitnya satu gempa susulan bermagnitudo 4 dalam sepekan ke depan di Venezuela. Selain itu, ada peluang 24% terjadi gempa susulan berkekuatan magnitudo 6.
Berbeda dengan sejumlah negara lain, Venezuela hingga kini belum memiliki sistem peringatan dini gempa yang memanfaatkan sensor untuk mendeteksi gelombang awal gempa.
"Sangat menyedihkan karena pada dasarnya tidak ada waktu untuk melakukan evakuasi," kata Goulet.
(fab/fab) Add
source on Google