8 Negara Bersatu Melawan China, Beri Peringatan ke Seluruh Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Eskalasi ancaman siber yang terafiliasi dengan pemerintah China kian mengkhawatirkan. Kondisi ini memicu alarm bahaya di tingkat global, hingga membuat lembaga keamanan siber internasional menyerukan aksi nyata secara masif untuk memperkuat benteng pertahanan digital.
Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) memimpin gerakan global ini dengan mendesak organisasi di seluruh dunia untuk bersatu. Langkah ini diambil guna memotong jaringan rahasia (botnet) yang kerap digunakan oleh para peretas (hacker) asal Negeri Tirai Bambu dalam melancarkan aksi spionase digitalnya.
Sebagai langkah konkret, NCSC resmi merilis panduan mitigasi baru. Tidak sendirian, panduan ini disusun bersama pelaku industri teknologi dan 15 mitra internasional dari 8 negara sekutu, termasuk Amerika Serikat (AS) melalui FBI, Australia, Kanada, Jerman, Jepang, Belanda, Selandia Baru, hingga Spanyol.
Modus Operandi Peretas China
Berdasarkan laporan NCSC, para peretas China memanfaatkan celah pada perangkat sehari-hari yang rentan dan terhubung ke internet, seperti router rumahan hingga perangkat pintar (smart home devices). Perangkat-perangkat inilah yang kemudian disusupi untuk membentuk jaringan rahasia.
Lewat jaringan siluman tersebut, para aktor siber membidik sektor-sektor kritis di berbagai belahan dunia. Misi mereka jelas: mencuri data sensitif dan mempertahankan akses ilegal secara jangka panjang di dalam sistem korbannya.
"Dalam beberapa tahun terakhir, kami melihat pergeseran taktik kelompok siber berbasis China. Mereka memanfaatkan jaringan ini untuk menyembunyikan aktivitas berbahaya agar bisa lolos dari jerat hukum dan tanggung jawab," ungkap Direktur Operasional NCSC, Paul Chichester, dikutip dari Reuters, Jumat (26/6/2026).
Serangan Kian Canggih dan Sulit Dideteksi
Panduan yang diterbitkan bersama FBI tersebut turut memperingatkan bahwa deteksi serangan siber dari China kini jauh lebih rumit. Pasalnya, para peretas bergerak sangat cepat untuk menghapus jejak digital (digital footprint) segera setelah misi mereka terlaksana.
Kondisi ini dipertegas oleh Kepala NCSC, Richard Horne. Ia mewanti-wanti Inggris dan sekutunya untuk bersiap menghadapi lonjakan serangan siber, baik langsung maupun tidak langsung, yang disponsori oleh negara-negara seperti China, Iran, dan Rusia.
Horne membeberkan bahwa lembaga yang dipimpinnya rata-rata harus menangani sekitar empat insiden siber skala nasional setiap minggunya. Ironisnya, serangan dengan dampak kerusakan paling masif saat ini mayoritas dikomandoi oleh aktor negara (state-sponsored), bukan lagi sekadar geng kriminal siber biasa.
Merespons ancaman yang kian nyata ini, pemerintah Inggris juga dilaporkan telah mendekati sejumlah raksasa kecerdasan buatan (AI). Kolaborasi ini bertujuan untuk membangun sistem pertahanan siber berbasis AI generasi terbaru guna memitigasi serangan terhadap infrastruktur nasional yang bersifat vital.
(fab/fab) Add
source on Google