Megatsunami Tertangkap Satelit NASA, Ilmuwan Ungkap Fakta Mengejutkan

Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
Jumat, 26/06/2026 15:50 WIB
Foto: Ilustrasi Tsunami. (Dok. Freepik)

Jakarta, CNBC Indonesia - Satelit milik NASA berhasil menangkap gambar beresolusi tinggi dari megatsunami yang dipicu gempa dahsyat di lepas pantai Semenanjung Kamchatka, Rusia, pada akhir Juli 2025.

Tsunami yang menjalar ke seluruh Samudra Pasifik, terekam secara detail oleh satelit Surface Water Ocean Topography (SWOT), memberikan pandangan baru yang belum pernah diperoleh ilmuwan sebelumnya.


Temuan tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah The Seismic Record. Peneliti menyebut ini sebagai pengamatan pertama beresolusi tinggi dan cakupan luas terhadap tsunami besar yang dipicu gempa di zona subduksi.

Hasil pengamatan mengungkap fakta yang mengejutkan. Alih-alih bergerak sebagai gelombang sederhana, tsunami tersebut menunjukkan pola yang jauh lebih kompleks. Gelombang menyebar, terpencar, dan saling berinteraksi di area yang sangat luas di Samudra Pasifik.

Penemuan ini dinilai dapat membantu para ilmuwan meningkatkan akurasi sistem peringatan dini tsunami sekaligus memahami risiko yang dihadapi wilayah pesisir, termasuk negara-negara di kawasan Pasifik seperti Indonesia.

Tsunami Dipicu Gempa Magnitudo 8,8

Tsunami tersebut dipicu gempa berkekuatan magnitudo 8,8 yang mengguncang zona subduksi Kuril-Kamchatka pada 29 Juli 2025. Kawasan itu merupakan wilayah pertemuan lempeng tektonik, di mana satu lempeng terdorong ke bawah lempeng lainnya.

Gempa tersebut tercatat sebagai gempa terbesar keenam yang pernah direkam di dunia sejak tahun 1900.

Untuk meneliti peristiwa itu, para ilmuwan menggabungkan data dari satelit SWOT dengan pengukuran dari buoy DART (Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis) yang tersebar di berbagai titik Samudra Pasifik. Perangkat tersebut dirancang untuk mendeteksi perubahan kecil pada permukaan laut dan memberikan informasi peringatan dini saat tsunami terjadi.

Penulis utama studi dari University of Iceland, Angel Ruiz-Angulo, mengatakan satelit SWOT memberikan perspektif yang sangat berbeda dibandingkan metode pengamatan sebelumnya.

"Saya menganggap data SWOT seperti sepasang kacamata baru," ujarnya, dikutip dari Science Daily, Kamis (25/6/2026).

Sebelumnya, lanjutnya, dengan DART peneliti hanya bisa melihat tsunami pada titik-titik tertentu di luasnya samudra. Ia menjelaskan bahwa memang pernah ada satelit lain sebelumnya, tetapi dalam kondisi terbaik pun hanya bisa melihat garis tipis yang melintasi tsunami.

"Kini, dengan SWOT, kami dapat menangkap area hingga sekitar 120 kilometer lebarnya dengan data permukaan laut beresolusi tinggi yang belum pernah ada sebelumnya," jelasnya.

Satelit Khusus Pemantau Air Bumi

SWOT diluncurkan pada Desember 2022 sebagai misi gabungan antara NASA dan badan antariksa Prancis, Centre National d'Etudes Spatiales (CNES).

Tujuan utama satelit ini adalah membuat survei global pertama yang komprehensif terhadap seluruh sumber air di permukaan Bumi, mulai dari sungai, danau, hingga berbagai fenomena di lautan.

Ruiz-Angulo mengatakan dirinya bersama rekannya, Charly de Marez, telah menghabiskan lebih dari dua tahun menganalisis data SWOT untuk mempelajari berbagai proses di lautan seperti pusaran kecil dan arus laut.

Salah satu temuan paling mengejutkan dalam penelitian ini berkaitan dengan konsep yang dikenal sebagai dispersi gelombang.

Selama ini ilmuwan menganggap tsunami besar sebagai gelombang yang bersifat "non-dispersif". Karena panjang gelombangnya jauh lebih besar dibanding kedalaman laut, tsunami diperkirakan mempertahankan bentuk yang relatif sama meski menempuh jarak ribuan kilometer.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Tantangan RI Perkuat Ekonomi Digital Lewat Industri Game, e-Sport & Sp