Manusia Sudah Digantikan, 21.000 Orang Kena PHK Gara-Gara AI
Jakarta, CNBC Indonesia - Kekhawatiran bahwa teknologi kecerdasan buatan (AI) akan merampas pekerjaan manusia bukan lagi ramalan. Buktinya makin terlihat di mana-mana.
Raksasa teknologi masih terus melancarkan aksi PHK massal di 2026. Beberapa mengaku alasan PHK dikarenakan adopsi AI yang lebih efisien dan meningkatkan produktivitas.
Terbaru, raksasa software asal Amerika Serikat (AS), Oracle, mengumumkan total tenaga kerjanya berkurang 13% atau setara 21.000 karyawan di tahun fiskal 2026.
Pengurangan karyawan itu seiring dengan komitmen Oracle melanjutkan restrukturisasi bisnis, sebagian didorong adopsi AI di semua lini operasional perusahaan.
Hingga 31 Mei 2026, Oracle memiliki total 141.000 karyawan. Angka itu berkurang jauh dari jumlah 162.000 karyawan pada periode yang sama tahun sebelumnya, menurut laporan tahunan yang dirilis perusahaan, dikutip dari Reuters, Selasa (23/6/2026).
Oracle membayar US$1,84 miliar (Rp32 triliun) untuk membayar pesangon dan biaya lainnya terkait PHK dan restrukturisasi di tahun fiskal 2026. Angka itu berlipat-lipat lebih tinggi ketimbang biaya US$374 juta (Rp6,6 triliun) yang dikeluarkan pada tahun sebelumnya.
Dalam laporan tahunannya, Oracle juga menyebut penyesuaian tenaga kerja dilakukan sebagai respons dari berbagai faktor. Antara lain, perubahan produk dan manajemen, isu kinerja, langkah strategis, dan akuisisi.
Penurunan jumlah karyawan ini menyusul beberapa laporan awal tahun ini tentang Oracle yang memangkas ribuan pekerjaan. Perusahaan tersebut tidak menanggapi permintaan komentar dari Reuters.
Kekhawatiran meningkat dengan cepat mengenai hilangnya pekerjaan akibat AI. Sebanyak 196 perusahaan teknologi telah memberhentikan lebih dari 119.800 karyawan sejauh tahun ini, menurut Layoffs.fyi, sebuah situs web yang melacak pemutusan kerja di seluruh sektor.
Sebagai pemain yang lebih kecil di industri komputasi cloud untuk waktu yang lama, Oracle dalam beberapa bulan terakhir telah menandatangani kesepakatan data center besar-besaran dengan OpenAI dan Meta untuk bersaing lebih ketat dengan para pesaing seperti Amazon dan Microsoft.
Namun, tidak seperti raksasa teknologi yang mendanai pengeluaran besar mereka melalui arus kas yang besar, Oracle terpaksa menggunakan cara membakar uang tunai dan menerbitkan utang. Saham perusahaan turun sekitar 10% tahun ini.
Oracle mengatakan awal bulan ini bahwa mereka memperkirakan pengeluaran modal bersih sekitar US$70 miliar (Rp1.249 triliun) pada tahun fiskal saat ini. Untuk mendanai itu, mereka akan mengumpulkan tambahan US$40 miliar (Rp714 triliun) dalam bentuk utang dan ekuitas, termasuk penerbitan saham senilai US$20 miliar (Rp357 triliun) yang telah diumumkan sebelumnya.
(fab/fab) Addsource on Google [Gambas:Video CNBC]