Pindah Garap AI, Karyawan Curhat Serasa Kerja Paksa di Penjara
Jakarta, CNBC Indonesia - Fokus investasi besar-besaran ke kecerdasan buatan (AI) ternyata memicu gelombang protes di internal Meta. Sejumlah karyawan yang dipindahkan ke divisi AI mengaku tidak puas dengan kondisi kerja mereka, bahkan ada yang menyebut pekerjaan tersebut "seperti gulag" atau kamp kerja paksa.
Laporan Wired mengungkapkan tim Applied AI Meta kini berada di ambang pemberontakan internal. Ketegangan memuncak setelah seseorang membajak presentasi internal perusahaan yang disiarkan secara langsung pekan ini.
Dalam aksi tersebut, pelaku melontarkan kata-kata kasar dan meminta agar para peserta menyampaikan kepada eksekutif senior AI Meta bahwa ia adalah "piece of sh*t".
Insiden itu disebut mencerminkan kemarahan yang telah lama terpendam di dalam unit Applied AI yang baru berusia tiga bulan. Tim tersebut beranggotakan sekitar 6.500 insinyur dan manajer produk yang ditugaskan mendukung ambisi riset AI Meta.
Sebelumnya, laporan Business Insider pada bulan lalu mengungkap banyak karyawan mengetahui pemindahan mereka ke tim tersebut melalui email mendadak. Salah satu karyawan yang dipindahkan bahkan menggambarkan proses tersebut di Reddit sebagai sesuatu yang acak.
Berdasarkan pengumuman internal yang ditinjau Business Insider, Meta memindahkan karyawan ke unit itu karena model AI perusahaan dinilai masih belum mampu melampaui kemampuan manusia dalam tugas-tugas teknis seperti pemrograman.
"Untuk membuat agen memahami bagaimana orang menyelesaikan tugas sehari-hari menggunakan komputer, kami perlu melatih model kami menggunakan contoh nyata," tulis pengumuman internal tersebut, dikutip dari TechCrunch, Kamis (18/6/2026).
Dalam rekaman audio rapat internal yang bocor pada bulan yang sama, CEO Meta Mark Zuckerberg menjelaskan alasan perusahaan memilih karyawan internal dibanding kontraktor eksternal.
Menurut Zuckerberg, Chief AI Officer Meta Alexandr Wang memahami industri pelabelan data dengan sangat baik. Wang sebelumnya menjual startup pelabelan datanya, Scale AI, kepada Meta dengan nilai US$14,3 miliar sebelum memimpin Meta Superintelligence Labs.
Zuckerberg juga menyebut secara terus terang bahwa rata-rata karyawan Meta memiliki tingkat kecerdasan yang "jauh lebih tinggi" dibanding kontraktor pihak ketiga. Karena itu, mereka dianggap lebih cocok untuk pekerjaan tersebut.
Namun, sejumlah karyawan mengaku tidak memiliki pilihan selain bergabung dengan unit baru tersebut atau keluar dari perusahaan. Banyak dari mereka menyebut diri sebagai "draftees" atau karyawan yang direkrut secara paksa.
Tugas utama mereka adalah membuat teka-teki dan persoalan pemrograman yang akan digunakan untuk melatih model AI Meta. Seorang karyawan mengatakan kepada Wired, "Ini benar-benar seperti gulag." Karyawan lainnya menambahkan, "Kebanyakan orang merasa pekerjaan ini menghancurkan jiwa."
Masalah moral kerja rupanya tidak hanya terjadi di tim Applied AI. Lebih dari 1.600 karyawan Meta dilaporkan telah menandatangani petisi yang memprotes program perusahaan yang memantau klik dan ketikan mereka untuk kebutuhan data pelatihan AI.
Suasana kerja yang suram disebut sudah menyebar ke berbagai lini perusahaan. Bahkan Chief Product Officer Meta Chris Cox dikabarkan merasa perlu membahas lingkungan kerja yang "brutal" dalam panggilan bersama para karyawan pekan ini.
Menurut laporan sebelumnya, tim Applied AI dipimpin Maher Saba, veteran Meta selama 12 tahun yang sebelumnya menjabat wakil presiden di divisi Reality Labs. Divisi tersebut diketahui menghabiskan sekitar US$83 miliar untuk proyek metaverse sebelum Meta mengalihkan fokusnya ke AI.
Tim baru itu berada di bawah pengawasan langsung Chief Technology Officer Meta Andrew Bosworth. Pada awal pembentukannya, struktur organisasi unit tersebut bahkan membuat satu manajer dapat membawahi hingga 50 karyawan.
Di tengah berbagai keluhan yang muncul, Zuckerberg akhirnya menanggapi situasi tersebut melalui memo internal pada Jumat lalu. Ia mengakui perubahan yang dilakukan perusahaan belakangan ini menyebabkan tekanan bagi sebagian karyawan.
Zuckerberg juga mengakui Meta telah melakukan sejumlah kesalahan dan berjanji akan memperbaikinya. Dalam memo tersebut, ia menegaskan bahwa "kompas utama Meta adalah menjadi tempat terbaik bagi orang-orang paling berbakat di dunia untuk memberikan dampak."
(dem/dem) Add
source on Google