Anggaran Rp 65 Triliun Habis Cuma Dalam 6 Bulan, Bikin Kaget!

Redaksi, CNBC Indonesia
Rabu, 17/06/2026 19:40 WIB
Foto: OpenAI. (REUTERS/Dado Ruvic/Illustration/File Photo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi berlomba-lomba mengembangkan sistem kecerdasan buatan (AI) paling canggih untuk memenangkan kompetisi yang kian sengit. Biaya yang dikeluarkan tidak sedikit, bahkan sudah memicu kekhawatiran pasar.

Para investor mulai mempertanyakan apakah biaya tinggi yang dikeluarkan raksasa teknologi untuk mengembangkan AI, termasuk membangun infrastruktur data center AI yang mahal, setara dengan keuntungan yang akan didapatkan di kemudian hari.


Ambil contoh OpenAI, raksasa AI di balik layanan chatbot AI populer ChatGPT. OpenAI dikatakan telah 'membakar' uang senilai US$3,7 miliar atau setara Rp65 triliun hanya dalam paruh pertama 2026, berdasarkan laporan The Information, dikutip dari Reuters, Rabu (17/6/2026).

The Information merujuk pada dokumen-dokumen yang dibagikan OpenAI kepada para pemegang saham. Reuters belum dapat memverifikasi informasi tersebut.

Pada awal bulan ini, OpenAI mengatakan secara diam-diam telah mengajukan dokumen untuk penawaran saham perdana (AI). Seorang sumber menyebut IPO kemungkinan dilaksanakan pada awal September 2026 dan berpotensi mengerek nilai kapitalisasi pasar hingga US$1 triliun.

Sebelumnya, pesaing OpenAI, Anthropic juga mengumumkan rencana IPO. OpenAI dan Anthropic sama-sama berusaha lebih dulu masuk ke pasar saham karena menilai status sebagai perusahaan publik pertama akan membantu membentuk persepsi investor terhadap nilai perusahaan sekaligus mengukuhkan posisi CEO mereka sebagai tokoh utama dalam industri AI.

Hingga Mei lalu, banyak penasihat keuangan memperkirakan OpenAI akan menjadi yang pertama memulai proses IPO. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, OpenAI bahkan telah memberi tahu sejumlah investor bahwa perusahaan menargetkan IPO paling cepat pada September tahun ini.

Namun, Anthropic bergerak lebih cepat. Pada 1 Juni lalu, perusahaan tersebut mengumumkan telah mengajukan dokumen rahasia kepada regulator Amerika Serikat untuk proses IPO. OpenAI kemudian menyusul seminggu setelahnya.

CEO Arena, perusahaan yang bergerak di bidang evaluasi dan pengukuran AI, Anastasios Angelopoulos, menggambarkan rivalitas kedua perusahaan sebagai persaingan yang sangat agresif.

"Ini perang habis-habisan antara mereka," kata Angelopoulos, dikutip dari Reuters, Jumat (12/6/2026).

"Setiap kali ada rilis baru dari Anthropic, taruhannya adalah OpenAI akan segera menyusul dan sebaliknya," lanjutnya.

Baik OpenAI maupun Anthropic menolak memberikan komentar terkait rivalitas para CEO tersebut.

Persaingan kedua perusahaan juga mencakup cara mereka menyajikan kinerja keuangan kepada investor.

Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, OpenAI telah memberi tahu investor dan karyawan bahwa metode akuntansi yang digunakan Anthropic membuat pendapatan perusahaan terlihat lebih besar hingga miliaran dolar AS.

Pada April lalu, Chief Revenue Officer OpenAI, Denise Dresser, menyampaikan kepada karyawan bahwa OpenAI menilai laporan keuangan Anthropic terlalu tinggi nilainya.

Anthropic mencatat seluruh pembayaran pelanggan atas layanan AI sebagai pendapatan. Namun, sebagian dana tersebut kemudian disalurkan kepada mitra seperti Amazon dan Google.

Sementara itu, OpenAI menggunakan metode berbeda dengan hanya melaporkan pendapatan bersih setelah membayar mitranya, yakni Microsoft.


(fab/fab) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:

Video:Kalah Dari Malaysia-Singapura, Ini PR RI Perkuat Kedaulatan Data