Smartphone Sudah Mau Punah, Penggantinya Makin Banyak
Jakarta, CNBC Indonesia - Sudah hampir 20 tahun sejak iPhone pertama kali diluncurkan, dan kini banyak orang mulai merasa lelah terus menunduk menatap layar ponsel. Dari rasa sakit di leher hingga rasa melewatkan momen nyata, kebosanan terhadap perangkat genggam makin terasa. Perusahaan teknologi besar kini berlomba-lomba menghadirkan kacamata pintar dan perangkat realitas tertambah (AR) yang diprediksi akan menjadi pengganti utama ponsel cerdas di masa depan.
Paling baru, Snap Inc. meluncurkan Specs. Dibanderol dengan harga US$ 2.195 atau sekitar Rp 34 juta. Perangkat ini akan mulai beredar di pasar Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis pada akhir tahun ini.
"Kita sudah hampir 20 tahun sejak peluncuran iPhone, dan sekarang orang sudah siap memikirkan cara berkomputasi yang berbeda," ujar Evan Spiegel, CEO dan pendiri Snap, dalam wawancara eksklusif dengan CNBC Interanational. "Specs adalah cara baru menggunakan teknologi bersama-sama dalam pengalaman nyata-kita melihat ke depan melalui lensa bening, bukan menatap layar buram di tangan."
Berbeda dengan produk pertama Snap, Spectacles yang hanya berfungsi sebagai kamera seharga US$ 130 dan kurang diminati pasar, Specs dirancang sebagai komputer spasial lengkap. Lebih ringan dari versi sebelumnya yang ditujukan untuk developer, perangkat ini memiliki layar lebih luas, daya tahan baterai hingga hampir 4 jam, serta koneksi Bluetooth.
Pengembang juga bisa membuat fitur berbasis kecerdasan buatan (AI) terintegrasi dengan tools dari Anthropic, OpenAI, dan Cursor. Spiegel bahkan mengklaim ini sebagai perangkat paling canggih, paling peka sekitar, dan paling mudah diakses.
Snap bukan satu-satunya yang bergerak ke arah ini. Persaingan makin ketat seiring masuknya nama besar seperti Meta, Google, Samsung, dan Apple yang juga mengembangkan produk serupa, dengan pendekatan dan strategi masing-masing.
Meta Sebagai Pemimpin Pasar
Meta sudah lebih dulu melangkah jauh melalui kolaborasi dengan EssilorLuxottica, pemilik merek kacamata Ray-Ban. Seri Ray-Ban Meta kini menjadi pemimpin pasar kacamata pintar, dengan penjualan lebih dari 7 juta pasang hingga pertengahan 2026 dan pangsa pasar lebih dari 70% di kategori ini.
Produk terbarunya, Ray-Ban Meta Generasi 2 dan varian Optics, hadir dengan desain yang terlihat persis kacamata biasa, mendukung kacamata resep, serta dilengkapi AI Meta berbasis model Llama 4.
Pengguna bisa memotret, merekam video resolusi 3K, melakukan siaran langsung, hingga menerjemahkan bahasa secara langsung-semua hanya dengan perintah suara "Hey Meta". Harganya jauh lebih terjangkau, mulai dari US$ 499, menjadikannya pilihan paling mendekati pasar massal saat ini.
Meski sempat berambisi besar di ranah realitas maya (VR), Meta kini memangkas ambisi tersebut dan beralih fokus penuh ke kacamata pintar dan AR, karena dianggap lebih cocok untuk dipakai sehari-hari dan lebih mudah diterima masyarakat.
Google dan Samsung Menyusul
Bersama-sama, Google dan Samsung baru saja memperkenalkan proyek kacamata pintar mereka di ajang Google I/O 2026, bekerja sama dengan merek mode ternama Warby Parker dan Gentle Monster. Produk ini mengandalkan teknologi AI Google Gemini dan sistem operasi Android XR, tersedia dalam dua jenis yaitu versi audio saja dan versi yang dilengkapi layar kecil di lensa kacamata.
Didesain sangat ringan dan bergaya, kacamata ini berfungsi sebagai pelengkap HP, memungkinkan pengguna bertanya arah, menerjemahkan tulisan di jalan atau menu restoran, mendengarkan musik, hingga mengelola pesan tanpa harus memegang gawai. Versi pertama direncanakan rilis musim gugur tahun ini, dengan fokus utama pada kenyamanan dan penampilan yang wajar dipakai sehari-hari, bukan terlihat seperti alat teknologi berat.
Apple, sebagai perusahaan yang paling diharapkan membawa gebrakan baru-baru ini justru mengubah strategi. Vision Pro, headset berukuran besar seharga US$ 3.499 yang diharapkan menjadi iPhone berikutnya, ternyata tidak laku. Harganya terlalu mahal, terlalu berat, dan kurang cocok untuk dipakai terus-terusan.
Apple dikabarkan telah menghentikan pengembangan lanjutan dan membubarkan tim pengembangnya, mengalihkan sumber daya ke proyek baru yaitu kacamata pintar ringan dengan kode nama N50.
Perangkat baru ini direncanakan rilis pada akhir 2026 atau awal 2027, berfungsi terhubung dengan iPhone, berdesain seperti kacamata biasa, dan tidak memiliki layar besar seperti Vision Pro. Ini menegaskan bahwa bahkan Apple kini percaya bahwa masa depan bukanlah di perangkat berat tertutup, melainkan di kacamata yang ringan dan nyaman dipakai setiap hari.
Tak Terlalu Canggih, Harganya Mahal
Meskipun peluangnya besar, tantangan masih ada. Harga Specs yang mencapai lebih dari Rp 34 juta menjadi hambatan besar, apalagi di tengah inflasi yang menekan daya beli konsumen. Pengamat pasar dari IDC, Jitesh Ubrani, menilai saat ini bukan waktu terbaik meluncurkan produk premium.
"Konsumen utama Snap adalah anak muda, yang umumnya tidak mampu membeli barang semahal ini," ujarnya.
Spiegel sendiri tetap yakin. Ia melihat pergeseran perilaku masyarakat yang mulai sadar dampak buruk terlalu lama menatap layar.
"Dulu anak-anak hanya bisa bermain sendiri di layar, sekarang dengan Specs mereka bisa bermain kejar-kejaran, belajar tentang dinosaurus, atau membangun mainan bersama-semuanya sambil melihat dunia nyata," katanya.
(dem/dem) Add
source on Google