Sia-Sia Zuckerberg Bayar Rp 248 T Rekrut Bocah Ajaib, Hasilnya Nihil

Novina Putri Bestari,  CNBC Indonesia
15 June 2026 13:30
WASHINGTON, DC - JULY 18: CEO of Scale A.I. Alexandr Wang testifies during a House Armed Services Subcommittee on Cyber, Information Technologies and Innovation hearing about artificial intelligence on Capitol Hill July 18, 2023 in Washington, DC. Th
Foto: Getty Images via AFP/DREW ANGERER

Jakarta, CNBC Indonesia - Ambisi CEO Meta Mark Zuckerberg untuk menguasai industri AI tak berjalan mulus. Padahal, Meta diketahui telah menghabiskan banyak uang dan sejumlah langkah agresif selama setahun terakhir.

Salah satunya mengeluarkan US$14 miliar (Rp 248 triliun) untuk membeli startup AI dan mendatangkan mantan CEO Alexandr Wang ke Meta.

Pria berusia 29 tahun itu didatangkan ke Meta dan bekerja sebagai kepala Meta Superintelligence Labs tahun lalu. Kemudian pada April, Wang meluncurkan model AI Muse Spark menandai lompatan Meta pada model dasar berpemilik.

Namun upaya ambisius Meta yang dilakukan untuk mengembangkan AI tak membuat investor terkesan. Tercatat saham pemilik Instagram dan Facebook anjlok 18% selama 12 bulan terakhir, dikutip dari CNBC Internasional, Senin (15/6/2026).

Laporan CNBC Internasional mencatat masalah Meta bermula karena adanya kesalahan strategis. Perusahaan masuk ke industri AI melalui model Llama dengan pendekatan sumber terbuka.

Hal ini membuat para pengembang bisa bereksperimen secara besar. Namun langkah itu berbeda dengan pembuat model AI besar lainnya yang membebankan biaya untuk mendapatkan akses.

Belum lagi peluncuran Llama 4 yang gagal total tahun lalu. Peluncuran itu dua bulan sebelum Zuckeberg memutuskan membeli Scale AI dan membawa Wang serta beberapa petinggi startup.

Muse Spark yang dirilis Wang didesain untuk terintegrasi dalam ekosistem Meta, seperti Facebook, Instagram serta kacamata Ray Ban Meta.

Analis Info-Tech Research Group, Thomas Randall mengatakan Meta perlu memiliki model kepemilikan yang konsisten. Jika Zuckerberg tidak mendatangkan Wang saat itu nampaknya Meta akan tersesat.

"Akan ada banyak penyedia model yang akan berubah secara fundamental dalam banyak hal, dan Meta perlu punya model kepemilikan yang konsisten dan andal," jelasnya.

Lebih lanjut, dia mengatakan Meta memang belum berada dalam jalur paling optimal. Namun dirinya sudah melihat visi yang ingin dicapai di masa depan.

"Saya sekarang bisa melihat visi apa yang tengah mereka coba capai dan apa yang Wang telah coba capai," ujar Randall.

(fab/fab) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Nasib Miris Zuckerberg, Sudah Koar-Koar Investor Tetap Tak Percaya


Most Popular
Features